Pengrajin Emas dan Perak: Potret Profesi Turun Temurun di Desa Tanjung Batu

Posted: October 7, 2009 in Edisi Traveling
Tags: , , ,

Seringkali sebuah cerita rakyat atau legenda dihubungkan dengan kebudayaan dan kemahiran penduduk dimana cerita atau legenda tersebut diyakini berasal. Begitu juga halnya dengan cerita rakyat atau legenda yang berkembang di tanah kelahiran saya, Desa Tanjung Batu yang terletak di Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Sebut saja cerita mengenai Sang Sungging dan Puteri Senuro atau Puteri Pinang Masak. Keahlian yang diwariskan oleh Sang Sungging dalam hal bertukang dan membuat kerajinan serta kemahiran Puteri Pinang Masak dalam membuat anyaman diyakini erat sebagai cikal bakal bidang usaha dan mata pencaharian penduduk yang berkembang di beberapa desa di Kecamatan Tanjung Batu.

Sejak kecil, setidaknya saya melihat dua kategori umum keahlian yang kemudian menjadi mata pencaharian penduduk asli, yaitu bertukang dan membuat kerajinan, meskipun tidak dipungkiri juga ada yang berkebun, berladang atau menangkap ikan. Masing-masing desa mempunyai spesifikasi bidang usaha atau mata pencaharian sendiri.

Sebut saja Desa Meranjat misalnya, terkenal dengan usaha membuat golok atau pisau dari besi. Bidang usaha ini juga bisa ditemui di Desa Tanjung Laut dan Desa Tanjung Pinang, di kedua desa ini juga dikenal dengan usaha tenun songket-nya. Kemudian ada lagi Desa Tanjung Atap terkenal dengan usaha kerajinan pembuatan alat-alat memasak dari bahan aluminium. Desa Senuro disamping perkebunan dan ladang terkenal juga dikenal dengan usaha anyaman. Sementara untuk bidang pertukangan (kayu) terpusat di Desa Tanjung Batu Seberang. Desa ini sekarang bahkan sudah dikenal sebagai pusat usaha pembuatan Rumah Kayu Knock Down dan sudah merambah pasar Internasional.

Di desa kelahiran saya sendiri, Desa Tanjung Batu, bidang usaha atau mata pencaharian utama penduduknya didominasi oleh usaha kerajinan. Jenis kerajinan yang ada diantaranya adalah kerajinan kuningan (pembuatan perlengkapan pengantin), kerajinan emas dan perak. Dari jenis kerajinan tersebut, kerajinan emas dan perak mendominasi sebagai mata pencaharian utama penduduk. Bidang usaha ini kemudian oleh penduduk lokal lebih dikenal dengan istilah “pande” atau “kamasan”. Profesi pengrajin emas dan perak ini sudah dilakoni oleh masyarakat sejak dahulu. Jika kita berkunjung ke rumah penduduk, hampir setiap rumah memiliki atau menekuni bidang ini, termasuk orang tua saya. Sehingga citra usaha ini sebagai usaha rumahan sudah melekat dari dahulu.

Namun jika berkunjung ke desa yang terletak sekitar 55 kilometer selatan Kota Palembang ini, jangan kaget dan jangan heran. Kita tidak akan menemukan pelang nama tentang usaha yang mereka geluti itu. Tidak seperti di daerah-daerah sentra kerajinan emas dan perak yang pernah saya kunjungi seperti di Yogyakarta dan Makassar. Apabila berkunjung pada sentra kerajinan di wilayah tersebut  kita akan menemukan pelang nama atau show room di beberapa rumah. Dan tidak hanya penduduk lokal yang tertarik dengan bidang usaha ini, orang asing pun ternyata ada. Dalam suatu rangkaian penelitian saya pernah berkunjung dan berdiskusi langsung dengan salah seorang pemilik show room dari kerajinan perak di Yogyakarta yang berkebangsaan asing dan sudah sekian lama menetap dan menekuni usaha ini. Artinya, jika berkiblat pada peluang dan pangsa pasar, bisnis ini sangat menjanjikan. Lalu mengapa di Desa Tanjung Batu tidak demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas analisis kita arahkan dulu kepada pertanyaan mengapa hampir sebagian besar penduduk di desa ini memilih profesi sebagai pengrajin emas dan perak. Faktor lingkungan ternyata mendorong dan menyebabkan penduduk menekuni profesi ini secara turun temurun. Dalam sebuah keluarga, orang tua yang kesehariannya berprofesi sebagai pengrajin emas dan perak secara tidak langsung akan melibatkan anak-anaknya membantu dalam pengerjaannya bahkan tidak jarang kemudian sampai mewariskannya. Sebelum pindah ke Jakarta, saya pun dulu seperti itu. Bila Bapak saya yang mengerjakan bentuk pesanannya (cincin, kalung, anting), maka saya dan Umak (panggilan untuk Ibu kandung) melakukan finishing-nya, yaitu membersihkan cincin, kalung, anting atau gelang supaya tampak mengkilat. Proses ini lazimnya disebut dengan proses “mengilang”. Keadaan ini sampai sekarang terus hidup dan begitu adanya.

Dalam ingatan saya, awalnya bukan emas atau perak yang menjadi bahan baku industri ini, tapi tembaga. Oleh penduduk desa biasanya disebut dengan istilah tembaga udang (logat lokalnya adalah temago udang). Kemudian lambat laun terjadi pergeseran permintaan dipasaran, sehingga para “toke” (istilah yang diiberikan bagi para pemilik modal atau orang yang memberikan orderan) juga menyediakan orderan dengan bahan baku berupa perak dan emas. Tapi setelah mengenal perak dan emas bahan baku tembaga tidak serta merta ditinggalkan, ada juga pesanan cincin, kalung, gelang atau anting yang merupakan campuran antara tembaga dengan emas, yang kemudian dikenal dengan istilah swasa. Hanya saja sekarang kuantitas pesanan berbentuk swasa ini sudah jarang.

Sebagaimana yang disinggung diatas, umumnya penduduk mengambil sistem orderan (atau sistem upahan) dari pedagang emas dari kota (Palembang) yang lazim disebut “toke” emas. Sebenarnya hasil yang diperoleh dari sistem upahan ini tidaklah besar jika dibandingkan dengan harga jual barang tersebut dipasaran. Saya sesekali iseng melihat atau sekedar menanyakan harga sebuah cincin atau satu pasang anting perak, katakanlah di Pusat Perbelanjaan Pasar Raya di bilangan Blok M Jakarta Selatan misalnya. Satu pasang anting perak kecil di hargai sekitar dua puluh ribu rupiah. Saya kemudian bertanya ke orang tua saya di desa, berapa upah mengerjakan satu pasang anting perak dengan ukuran yang kira-kira sama seperti yang saya lihat. Orang tua menjawab seribu sampai dua ribu rupiah. Saya lalu membayangkan proses yang harus dilalui ketika orang tua saya dan saya waktu mengerjakan sepasang anting tersebut, sebuah harga yang rendah jika dibandingkan dengan upaya yang dikeluarkan.

Namun itulah hebatnya penduduk desa, mereka pandai bersyukur dengan apa yang sudah mereka mulai dan warisi. Walaupun sedikit, tapi jika dikumpulkan lama-lama menjadi bukit. Jika dipikir, bagaimana mungkin seorang pengrajin perak dan emas upahan mampu menyekolahkan dua, tiga, empat atau sepuluh anaknya, bahkan ada yang sampai ke jenjang sarjana. Kembali lagi, bila ditilik dari kacamata religi, itulah arti syukur yang sesungguhnya.

Seiring dengan perkembangan waktu dan kemampuan, ada juga penduduk yang kemudian membuka toko, membuat dan menjual emas sendiri. Umumnya mereka akan membuka toko emas di luar desa, misalnya di kota atau di daerah kabupaten lain. Tentunya hasil yang diperoleh akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan apabila menerima sistem upahan. Secara nominal mungkin sangat sulit untuk diukur, namun secara pandangan mata akan terlihat jelas, misalnya dengan penampakkan kendaraan dan rumah yang relatif lebih bagus.

Tapi saya tetap berpikir, mengapa rata-rata pengrajin (termasuk orang tua saya) bertahan dengan sistem upahan tersebut. Alasan yang paling kelihatan sejauh pandangan mata saya adalah kemauan dan modal usaha. Keduanya pun harus saling mendukung. Ada kemauan tapi tidak ada modal juga tidak akan bisa.

Disamping dua alasan tersebut, gaung atau citra Desa Tanjung Batu sebagai salah satu sentra industri kerajinan perak dan emas “rumahan” di wilayah Provinsi Sumatera Selatan belum didukung oleh upaya promosi oleh Pemerintah Daerah (Pemda)-nya secara intensif. Artinya, orang mungkin sejauh ini mengenal nama Desa Tanjung Baru sebagai sentra kerajinan perak dan emas baru sebatas nama. Hal tersebut yang mungkin bisa menjawab, mengapa tidak ada pelang nama atau show room yang terpampang di setiap rumah para pengrajin.

Mungkin kondisinya akan berbeda manakala ada semacam promosi budaya dan pengangkatan citra yang dilakukan oleh pihak Pemda tentang pusat-pusat industri di wilayahnya, khususnya Desa Tanjung Batu. Upaya ini menurut saya tidak cukup hanya dengan pemaparan di buku Potensi Daerah yang diterbitkan setiap tahunnya, tapi harus lebih intensif dan dalam bentuk yang nyata. Sehingga masyarakat umum akan mengetahui dan tertarik berkunjung atau sekedar melihat-lihat kondisi para pengrajin perak dan emas di desa tersebut. Kondisi ini nantinya juga akan mendorong para penduduk untuk berpikir lebih maju lagi. Dan tidak dapat dipungkiri suatu saat akan terpampang pelang nama atau show room di setiap rumah penduduk.

Setidaknya itulah sekelumit potret mata pencaharian utama dari desa tempat kelahiran saya. Biarpun sekarang saya “mengais” rejeki di Jakarta, namun rasa memiliki dan rasa cinta sebagai urang diri akan terus melekat sepanjang masa.

About these ads
Comments
  1. Irma Yunita says:

    Assalamualaikum. Nama saya Irma.Umur saya 23 th. Saya punya rencana buka toko emas di Pekanbaru Riau. Saya punya modal 50 juta. Apakah dg modal 50 juta saya sdh bs buka toko emas ?
    Dan mau kah anda utk menjadi tukang emas di toko saya? Klu mmg qta cocok, harap hubungi saya di Nmr 083186385597. Saya tunggu jawaban dari Anda. Terimakasih. Wassalam…

    • zasmiarel says:

      “Halo mbak irma… terima kasih atas tawarannya ya. Salut dengan anda, umur masih muda namun mau buka usaha sendiri. Namun sayang mbak irma, saya sudah menetap dan mempunyai pekerjaan yang tetap di jakarta.

      Sekalilagi terima kasih atasa tawarannya ya….”

  2. tety pratiwi says:

    saya sangat tertarik dengan pemaparan anda, saya juga orang tannjung batu, rencananya saya mau neliti tentang pendapatan pengrajin emas. apakah anda punya buku yang trekait dengan pengrajin emas??? makasih

    • zasmiarel says:

      Halo Bu tety… salam kenal…
      Mengenai latar pemaparan saya adalah murni dari pengalaman dan pengamatan saya pribadi. So, untuk buku atau pun literatur saya tidak mempunyai. Terkait dengan riset yang akan ibu lakukan, saya rasa kalau ibu searching mengenai profil pengrajin emas dan perak di Tanjung Batu akan terbatas sekali (mungkin ada satu dua). Akan lebih baik lagi jika ibu bisa mengumpulkan data primer. Demikian bu tety. Sekali lagi… senang berkenalan dengan anda.

      • tety pratiwi says:

        saya belum ibu-ibu. saya jugo urang tanjung batu… tapi ngapo aku tak tau dengan kamu e…. ngomong-ngomong kamu di tanjung batu rumahnyo dimano??? aku bak tak kenal.. dan sekali lagi, aku baru semster 6 di UNJ. tau???? senang berkenalan dengan urang satu daerah, tapi aku tak tau di kamu, btw, anak sapo, gek kutanyokan di bapakku.heeee. oh yo rumahku parak walimah…

      • tety pratiwi says:

        oh lupo, koni nomerku 08127362823.. pengen tau be, soalnyo aku madaki dak tau kalau ado wong tanjung batu jugo, yang samo-samo diam di jakarta… oke.

  3. Tommy says:

    Aku jg tertarik dg emas,mungkin 1~2mingu lg aku buka tambang emas…kira2 prospeknya gmn ya?..yg pengalaman tlg koment donk…

  4. edy joko s says:

    limbah poles & air cucian / cianida / cendawa dikumpulkan apa ngak ??? aku mau merawatnya beli. trim”sss..

  5. hamdan says:

    salam airel ada kah orang tua awak masih membuat krrajinan perak lagi kalau masih beroperasi bagaimana saya bisa ke desa kamu utk menempah cincin perak

    • zasmiarel says:

      Halo Pak Hamdan… sori baru balas lagi. Orang tua saya masih kerja menempah cincin perak pak, namun orderan dalam skala kecil, keterbatasan orang tua saya adalah faktor usia dan peralatan… kalo pak hamdan hendak berkunjung ke kampung saya berarti darai malaysia pak hamdan harus terbang dulu ke palembang…nah dari palembang (saya ndak tahu ada taksi dari bandara apa tidak karena saya sudah lama gak pulang), kalau nggak ada berarti pak hamdan harus ke kota palembang dulu. dari kota nya baru pak hamdan naik angkutan ke desa saya… agak ribet ya pak kalo dituliskan, hehehe

  6. kayana says:

    say pemilik rental glundungan emas saya mau jual emas2 saya kepengrajin emas kira ada tdk ya??saya minta no hp end alamat tempatnya!!!terima kasih ya

  7. Ria says:

    Pagi mas arel, lam kenal

    Ria senang membaca sekelumit cerita di atas, persoalan kita sama, Ria dari bali utara mempunyai usaha rumahan juga, sekitar 10 KK menggeluti usaha ini.

    Cita-cita saya ingin mengembangkan usaha di kampung saya, belum kesampaian,

    Kalau ada cara promosi dan cara pendistribusian yang bagus, minta sharing ya, thx

  8. wahyu says:

    paagi semua,
    aku wahyu aku mau tau dimna ya tempat orang yg menerima emas? soalnya aku dibogor sbagai pengepul emas, dan omzet saya sehari 1kg/hari, dan perak 15 kg/hari, aku mau jual barang saya….klo ada tlg hubungi ya ke nmr 08561445350
    maksh sebelumnya..

  9. arief says:

    Rupanya para pengrajin emas turun temurun ada juga di riau ya.saya juga salah seorang pengrajin emas turun temurun dari desa Habirau di kalimantan selatan.Kami biasa menerima orderan emas 24k(atau disebut juga emas 99) dengan biaya pergram(antar kisaran 1rb dan 3rb.pergramnya tergantung tipe patriannya).
    Buat yg pengen usaha toko emas sebenarnya bisa saja dengan modal 50jt tapi dgn catatan punya toko sendiri)dan saran saya lebih baik jual emas muda(kisaran 37% ato 42%) saja dulu..beli dari pabrikan seperti UBS gold,dsb.

    • zasmiarel says:

      salam kenal mas arief…. lokasi desa di tanjung batu, Ogan Ilir, Sumsel mas bukan Riau….:-)

      • arief says:

        hehe mf salah..salam kenal juga mas,mf sebenarnya kmaren saya ga baca betul2 artikel mas ^^.oh ya kelihatannya banyak kesamaan antara pengrajin emas ditanjung batu dengan di tempat saya,seperti sebutannya “kamasan”,sistem upahnya,mungkin lbh banyak lg kesamaan yg lain..hehe ternyata pengrajin emas ada dimana2 ya ^^

  10. nita says:

    ass. wr wb. hai kak pa kabar saya nita, baru tahu lo kalau si daerah oki ada pengrajin emas,,,,,papaku asli oku adumanis dan rasanya desa tanjung batu pernah terdengar…….kalau da waktu dan rezki insyaallah saya berminat maen kesana,,, trimaasih atas infonya ya kak…

  11. dian cahyani says:

    salam kenal mas Arief, saya org Tg.Batu. kmi ada tgs dr dosen dsruh bwt perkembangan industri dr mulai awal brdiri smpai bs succes skrg. rencananya, sy mau bkn tentang krjinan Emas dan perak di Tg.batu. ada data2 yg bs mnnjang g’?

  12. nofear says:

    salam kenal jok

    aq mewakili urang diri ngucapkan seribu mokase dengan ngenalkan kerajinan qt ke seluruh dunio

    moga dengan ado nyo iko banyak yang tebuko hatinyo pemerintah dan toke cino yang ngenjok upa sekendak nyo be
    gar urang diri tu pacak jayo jg
    keyyyyy

  13. triswanto says:

    barang kali anda membutuhkn mesin roll emas,di bengkel saya memproduksi mesin roll emas,
    hubungi aja ke no hp 085842291294 / 082136303223

  14. weya adji says:

    hai semua,salam kenal saya ikut gabung disini boleh ngga

    • ahmadnazar says:

      siang semua saya mau tanya,,, ada ga yang mau jual air sendawa atau poles emas sampahnya abu nya ,, klau ada kabarin ke saya ,, tlf 081316131216 saya nazar tukang ambil sampah emas tq

  15. Nasir says:

    Banyak juga yg cari tukang,,,
    bnyk tkg nganggur asal cocok bayaran ada az kok, tp hati2 bnyk sekrg tukang yg curang….
    Untuk urusan emas dr batu sampai perhiasan saya bs bantu @ az, jhempol_bima@yahoo.com

  16. yanda says:

    hallo bos….
    tak tolong tampil kenyo cincin model baru ……….

    trimokaseh

  17. Hermanto says:

    sip pak arel….saya dari sekayu..kebenaran asli juga tanjung batu saya buka toko mas di sekayu…karna pas smp saya saya di tanjung batu kemudian sma saya di sekayu musibanyuasin sumsel saya jadi teringat di tg batu….hebat pak arel memperkenal kan daerah nya kata orang jawa dak lupooooo….salam…….pramuka….

  18. agungabdi says:

    salam kenal mang…
    mantap tulisannyo. makin jayo buat pengrajin di dusun kito. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s