<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dibalik Cerita</title>
	<atom:link href="http://zasmiarel.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zasmiarel.wordpress.com</link>
	<description>menceritakan apa yang bisa diceritakan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 09:33:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='zasmiarel.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/6ee718ef9f54d29eb3349bd27adaa379?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Dibalik Cerita</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://zasmiarel.wordpress.com/osd.xml" title="Cerita Dibalik Cerita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://zasmiarel.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Singapura: Kunjungan Kedua</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2012/01/02/singapura-kunjungan-kedua/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2012/01/02/singapura-kunjungan-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 07:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Bugis Street]]></category>
		<category><![CDATA[Changi International Airport]]></category>
		<category><![CDATA[Esplanade]]></category>
		<category><![CDATA[Marina Bay Sands]]></category>
		<category><![CDATA[Marlion Park]]></category>
		<category><![CDATA[Orchard Road]]></category>
		<category><![CDATA[Sentosa Island]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore Botanic Garden]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore Science Center]]></category>
		<category><![CDATA[Songs of the Sea]]></category>
		<category><![CDATA[The Hive Hostel Singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1865</guid>
		<description><![CDATA[Ke Singapura lagi?? Yup, pertengahan Oktober 2011 saya kembali menginjakkan kaki di Singapura. Sebagaimana harapan kami (saya dan istri) di akhir kunjungan kali pertama silam (14 sampai dengan 16 Januari 2011), keinginan kami membawa serta si kecil pada kunjungan kali ini bahkan beserta ibu mertua akhirnya kesampaian. Jika pada kesempatan kunjungan pertama bisa dikatakan sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1865&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="Arel_Singapura Two_022" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_022.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Ke Singapura lagi?? Yup, pertengahan Oktober 2011 saya kembali menginjakkan kaki di Singapura. Sebagaimana harapan kami (saya dan istri) di akhir kunjungan kali pertama silam (14 sampai dengan 16 Januari 2011), keinginan kami membawa serta si kecil pada kunjungan kali ini bahkan beserta ibu mertua akhirnya kesampaian. Jika pada kesempatan kunjungan pertama bisa dikatakan sebagai liburan bulan madu (karena hanya saya dan istri), naah kunjungan kali kedua ini bisa dikatakan murni liburan keluarga.<span id="more-1865"></span></p>
<p>Karena sudah pernah kesana maka dari rencana tempat tujuan, pilihan transportasi dan rutenya, pilihan tempat menginap, tempat makan sudah tidak masalah buat kami. Namun, berhubung kali ini kami membawa si kecil yang baru berumur empat tahun, persiapan barang bawaan buat dia harus kami rencanakan betul agar tidak kekurangan ataupun over loading. Karena nantinya kami sudah terbayang akan banyak jalan maka yang utama kami putuskan untuk membawa kereta dorong, supaya nyaman buat dia dan nyaman pula buat kami. Yaaa&#8230;lumayan kalo sekiranya harus menggendong dia yang berbobot sekitar sembilan belas kilo, hehehe.</p>
<p>Seperti biasa, tiket pesawat dan penginapan kami pesan dari jauh hari (mulai bulan Mei 2011). Kali ini kami putuskan untuk menumpang Tiger Airways untuk keberangkatan tanggal 14 Oktober 2011 dan rencana kembali tanggal 17 Oktober 2011. Sedangkan untuk penginapan kembali kami booking di the Hive Backpacker Hostel di Serangoon Road. Pilihan tempat ini tentunya didasarkan pada pengalaman sebelumnya, disamping murah, akses ke MRT dan Bus gampang, yang terpenting adalah the Hive memperbolehkan bagi tamu yang membawa anak kecil. Sebagai catatan saja, tidak semua hostel atau hotel backpacker yang mengijinkan anak kecil turut serta menginap.</p>
<p>Perjalanan kali ini juga merupakan kejutan buat si kecil. Seminggu sebelum keberangkatan, si kecil kami sempat melihat-lihat peta tujuan wisata di Singapura, lalu dia mengutarakan keinginannya ke saya, &#8220;papa, kalo papa sama mama punya uang, dede pengen deh ke Singapura&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendengar permintaannya tersebut kami tidak serta merta memberitahu dia. Sekali lagi, ini kami jadikan surprise buat dia. Dan kami baru memberitahu dia satu hari tepatnya di malam keberangkatan. Wow&#8230; benar saja&#8230;. dia girang bukan kepalang. Dan bagi kami kegirangan si kecil ini juga kebahagiaan buat kami. Namun tidak hanya sekedar itu, tujuan kami mengajak si kecil kali ini adalah kami ingin memberikan pembelajaran kepada dia tentang kedisiplinan serta keteraturan. Menurut kami, Singapura adalah salah satu tempat yang baik untuk itu.</p>
<p>Pesawat yang akan kami tumpangi rencananya akan take off pukul 09.55 WIB. Supaya tidak terlambat dan agak santai untuk urusan check in, imigrasi dan pemeriksaan lainnya, maka kami putuskan untuk berangkat lebih pagi. Pukul 05.30 kami start dari rumah dengan menumpang taksi. Tiba di bandara seperti biasa, kami langsung menuju meja check in, membayar airportax sebesar 150ribu rupiah per orang, lalu mengantri di meja imigrasi (sebelumnya tidak lupa mengisi lembaran keberangkatan yang diberikan), menuju ruang x-ray, dan lanjut menuju ruang tunggu boarding. Dan Tepat pada waktu yang ditentukan, pesawat Tiger Airways yang akan membawa kami ke Singapura lepas landas dari Soekarno Hatta International Airport.</p>
<p><em><strong>Hari Pertama</strong></em></p>
<p>Sekitar Pukul 12.45 waktu Singapura pesawat Tiger Airways yang kami tumpangi mendarat di Changi International Airport. Jika kita menumpang Tiger Airways, maka kita akan mendarat di Budget Terminal. Hal ini sempat membuat kami bingung, karena pada kunjungan pertama (menumpang AirAsia) kala itu kami mendarat di Terminal 1. Sembari turun pesawatkami mencari tahu, namun akhirnya mengikuti saja arus penumpang yang lain menuju antrean di depan bagian imigrasi.</p>
<p>Penjagaan di bagian imigrasi pada Budget Terminal cukup ketat. Pertama kita harus melalui x-ray, disini bagi yang membawa laptop harus mengeluarkannya dari tas dan menempatkannya pada tempat yang sudah disediakan. Lepas dari bilik x-ray ini, kita kemudian harus mengantri pada bagian pemeriksaan passport. Disini juga petugas yang menjaga cukup awas. Apabila mendapati penumpang yang menelepon atau hanya sekedar mengutak atik handphonenya, si petugas langsung menghampiri dan meminta si empunya handphone tersebut untuk menghentikan aktifitasnya. Namun sisi baiknya juga ada, bagi penumpang yang membawa anak bayi akan diprioritaskan. Sampai disini kami mengikuti saja prosedur yang berlaku.</p>
<p>Lepas dari meja pemeriksaan imigrasi kami menuju tempat pengambilan baggasi yang tepat berada di depannya.  Sambil menunggu, saya sempatkan mencari tahu arah atau rute yang harus kami tempuh selanjutnya. Yang perlu kami tahu adalah bagaimana mencapai akses ke MRT Changi (di Terminal 2). Saya mencoba mencari map Singapura pada meja informasi, namun tidak tersedia. Selidik punya selidik dan tanya punya tanya akhirnya kami mengetahui bahwa untuk mencapai Terminal 2, kami harus naik Feeder Bus dari Budget Terminal.</p>
<p>Kami pun kemudian menuju tempat Feeder Bus tersebut menunggu, cukup mudah, karena petunjuknya sudah tersedia. Dan Feeder ini bisa tumpangi cuma-cuma alias gratis. Perjalanan dari Budget Terminal menuju Terminal 2 rupanya lumayan jauh juga. Sekitar 15-20 menit perjalanan akhirnya kami tiba di Terminal 2 Changi International Airport.</p>
<p>Begitu turun kami mencari petunjuk menuju arah MRT dan kemudian berjalan kaki menuju arah yang ditunjukkan. Sambil jalan, istri saya menghubungi teman kantornya (dari Bali) yang kebetulan akan bersama kami selama kunjungan di Singapura. Rupanya dia sudah tiba lebih dahulu dengan menumpang AirAsia dan saat itu menunggu dekat meja check in. Karena dia baru pertama ke Singapura maka kami pun berjalan ke tempat dia menunggu. Setelah ketemu dan cipika cipiki sejenak kami pun bergerak menuju tempat menunggu MRT di stasiun Changi.</p>
<p>Tiba di tempat menunggu MRT tak lupa kami mengisi EZ Link  Card dan membeli satu kartu untuk si kecil kami. Sebagai informasi saja, jika kita memutuskan bepergian menggunakan jasa MRT atau Bus selama di Singapura lebih baik dan lebih gampang kita membeli EZ Link Card. Kartu ini bisa digunakan untuk keduanya, baik untuk naik MRT maupun Bus. Jadi kita tidak perlu repot-repot bayar, tinggal nempelin kartu pada panel yang disediakan.</p>
<p>Setelah beres dengan urusan EZ Link Card, kami pun menuju platform untuk menunggu MRT. Sekitar dua menit kemudian MRT tiba dan kami pun naik. Tepat Pukul 14.30 MRT yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Stasiun Changi. Mmm&#8230; menjadi catatan, jika kita naik Tiger Airways kita harus menyediakan atau mengukur waktu lebih banyak untuk proses dan perjalanan antara Budget Terminal menuju Terminal 2 (atau sebaliknya).</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_001.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1910" title="Arel_Singapura Two_001" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_001.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Selang beberapa menit MRT yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Tanah Merah. Kami turun dan melanjutkan/ menyambung naik MRT yang menuju Stasiun Outram Park, yang merupakan stasiun interchange. Di Stasiun Outram Park kami turun dan kemudian menyambung naik MRT jurusan Punggol. Kami kemudian turun di Stasiun MRT Boon Keng. Saya melirik jam, pukul 15.30. Kami keluar dari Stasiun Boon Keng melalui Pintu C. Begitu keluar kita akan menemui Serangoon Road dan kemudian kami berjalan kaki menyusuri trotoar menuju The Hive Backpacker Hostel yang sudah terlihat di depan mata.</p>
<p>Kami kemudian mengkonfirmasi kamar yang sudah dibooking sebelumnya. Karena sudah memasuki waktu check in (dan kebetulan kamarnya juga sudah siap), kami pun langsung menuju kamar dengan tak lupa melakukan pembayaran dari total biaya untuk total hari kita menginap. Sekedar untuk diketahui dan untuk mengingatkan, bahwa waktu check-in di The Hive adalah Pukul 15.00.</p>
<p>Setelah istirahat, sholat zhuhur dan ganti baju, kami pun memutuskan untuk mencari makan siang di seputar Mustafa Center. Waktu menunjukkan pukul 16.30. Mmm&#8230; sayang sekali kali ini saya tidak mendapatkan waktu untuk jumatan di Mesjid Angullia sebagaimana waktu kunjungan kali pertama. Nasi Briyani menjadi menu makan siang kami kali ini. Begitu selesai makan, si kecil kami menunjukkan gelagat mengantuk. Benar saja, baru beberapa menit saya pangku, dia sudah tertidur pulas. Supaya nyaman saya dudukkan dia di kereta dorongnya, dan kami pun melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Sembari saya jaga si kecil, rombongan para ibu (istri saya, mertua, dan teman satu kantor istri) mulai memasuki beberapa toko untuk sekedar melihat barang-barang yang dijual. Salah satu toko yang dimasuki adalah toko yang menjual cinderamata khas Singapura, yaitu toko 3 for Sgd 10, yang terletak tidak jauh dari Mustafa Center. Disini kami membeli tempelan kulkas dan gantungan kunci untuk oleh-oleh.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_002.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1912" title="Arel_Singapura Two_002" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_002.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Setelah itu kami melanjutkan berjalan kaki menuju depan Mustafa Center. Kebetulan sedang ada bazaar ala India  dalam rangka memperingati salah satu hari besar India, Deepavali, yang berlokasi tepat di seberang Mustafa Center tersebut.  Karena si kecil masih tertidur pulas, saya putuskan untuk menunggu saja di luar lokasi bazar, sementara para ibu masuk ke dalam areal bazaar. Cukup lama juga saya menunggu, daripada jenuh, saya pun mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa foto, termasuk lalu lalang orang di dekat saya. Selang tiga puluh menit-an, akhirnya para ibu muncul dari dalam areal bazar dengan menenteng barang belanjaan. Mmm&#8230;. naluri para ibu memang lain kalau untuk urusan belanja, hahahaha&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_003.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1915" title="Arel_Singapura Two_003" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_003.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Sekitar pukul 18.00 kami menyudahi berkeliling di seputar bazar tersebut, si kecil juga sudah bangun dan kelihatan segar kembali. Tujuan kami selanjutnya adalah ke vivo city&#8230;niat beli tiket pertunjukan Songs of the Sea untuk keesokan harinya. Yang lain menunggu di vivo city mall sambil makan di food court nya, sementara saya sendiri yang ke sentosa island untuk beli tiketnya. Terminal untuk menuju sentosa island ada di lantai 3, dari sini kita naik Sentosa Express dengan terlebih dahulu membeli karcis seharga Sgd 3.</p>
<p>Disini saya bingung caranya&#8230; karena belinya melalui mesin. Saya perhatikan dulu orang yang ada di depan saya&#8230; kebetulan mereka memasukkan uang coin dan kemudian penjet berapa karcis yang akan di beli&#8230;lalu keluar deh karcisnya&#8230; nah, yang saya bingung adalah uang yang saya bawa dalam bentuk lembaran&#8230; waduh&#8230; kebetulan di depan saya ada anak muda Singapura yang membeli karcis dengan uang lembaran&#8230; saya perhatikan caranya&#8230; dan akhirnya daripada-daripada saya minta bantuan dia&#8230; untungnya dia bersedia&#8230; karcis sentosa express pun di tangan.. kemudian seperti biasa untuk masuknya karcis tersebut kudu kita tempelkan pada panel yang sudah tersedia&#8230; lalu tinggal nunggu deh (belakangan saya baru tahu kalo ternyata untuk beli karcis sentosa express tersebut bisa memakai EZ link Card)&#8230; alamak&#8230;.kalo tahu dari awal tadi ngapain repot-repot..hahahaha.</p>
<p>Senotasa Express pun muncul&#8230; disini saya bingung&#8230; nantinya akan turun dimana&#8230; karena di dalam tidak ada petugasnya, dan tadi sebelum naik lupa nanya. Akhirnya sok pede sambil nguping kiri kanan kira-kira untuk pertunjukkan Song of the Sea nantinya turun di mana. Dengar punya dengar ternyata nanti saya harus turun di stasiun terakhir, yaitu Beach Station dari tiga stasiun pemberhentian. Begitu tiba di pemberhentian terakhir (Beach Station) saya pun turun.</p>
<p>Tiba di depan loket, saya langsung pesan tiket Songs of the Sea untuk pertunjukkan keesokan hari. Dan ternyata dijawab tidak bisa. Lhaaa kok??? Saya tanya bukannya biasanya bisa. Nah, petugas loketnya dengan ramah (cewek India&#8230; cakep n hitam manis&#8230;hehehe) menjelaskan bahwa berhubung pada saat itu musim hujan maka mereka hanya menjual tiket untuk pertunjukkan hari itu. Dia menjelaskan, jika kita sudah membeli tiket, tapi kemudian turun hujan sebelum jadwal pertunjukkan dimulai, maka secara otomatis pertunjukkan Songs of the Sea nya akan dibatalkan alias tidak jadi dipertontonkan untuk jam pertunjukkan tersebut. Nah, masalahnya tiket yang kita beli hanya berlaku untuk pertunjukkan di jam dan hari tersebut, dan tidak bisa digeser untuk pertunjukkan di jam berikutnya. Artinya, jika terjadi kondisi seperti itu, tiket yang sudah kita beli hangus. Wow&#8230;. ternyata begitu toh.</p>
<p>Saya pun akhirnya meng-sms istri kondisinya. Setelah urun rembuk, akhirnya kita putuskan untuk nonton pertunjukkan Song of the sea untuk hari itu juga, karena kita juga gak tahu apakah besok cuacanya akan sebaik hari ini. Sementara menunggu istri, anak, mertua dan teman kantor istri, saya pun mengantri di depan loket penjualan kembali. Berhubungan untuk pertunjukkan pukul 19.40 sudah dimulai, maka kami pesan untuk pertunjukkan jam berikutnya 20.40. Harga tiket adalah Sgd 10 untuk tempat duduk standard, dan Sgd 15 untuk tempat duduk Premium. Saya ambil yang tempat duduk Standard, tiket pun di tangan, dan tak lama kemudian rombongan istri pun tiba. Saya perhatikan si kecil, sungguh senang dia, saya pun bersyukur, sejauh ini dia tidak rewel sama sekali.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0041.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1917" title="Arel_Singapura Two_004" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0041.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Sambil menunggu, kami pun sempat foto di luar dan akhirnya tiba waktu pertunjukkan dimulai. Kami pun mengantri untuk masuk pada lajur pembeli tiket biasa (dari Pintu masuk 5), sedangkan yang membeli tiket premium masuk dari pintu utama. Begitu masuk, saya pun memilih tempat duduk agak ke tengah dan ke belakang, tujuan saya cuma satu&#8230;supaya dapat view untuk memotret dan meletakkan tripod&#8230;hahaha.</p>
<p>Tepat pukul 20.40, pertunjukkan dimulai, saya kembali melirik ke si kecil&#8230; wow&#8230; dia begitu senang dengan pembukaan berupa permainan sinar laser&#8230; apalagi yang pertama kali muncul adalah tokoh oscar yang dia sudah kenal juga&#8230; Kami pun  kemudian terlena dengan babak demi babak dari pertunjukkan Song of the sea tersebut. Begitu indah dan menakjubkan permainan sinar laser, air, dan kembang api yang dipertontonkan secara silih berganti.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1919" title="Arel_Singapura Two_005" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_005.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Saya pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut begitu saja&#8230;tidak kurang 40 foto yang saya jepretkan disini&#8230; sesekali si kecil menggoda saya dengan tingkah lucu dan girangnya&#8230; saya pun membalasnya dengan senyuman, sambil sesekali mencium mukanya yang semeringah menyaksikan pertunjukkan yang menakjubkan tersebut. Dan begitu pertunjukkan selesai, ditandai dengan kembang api yang menggelegar, si kecil kami bukannya takut tapi malah tereak kegirangan&#8230;Tidak hanya dia, kami semua penonton di lapangan tersebut bersorak kegirangan serta puas dengan apa yang sudah dipertontonkan&#8230;. Pukul 21.15 pertunjukkan pun usai.</p>
<p>Kami pun keluar dan foto-foto sebentar, lalu menuju tempat menunggu Sentosa Express untuk kembali pulang ke penginapan. Sekitar pukul 22.00 kami pun tiba di The Hive. Si kecil tidur sekamar dengan Utinya, sementara saya dan istri di kamar yang lain. Begitu tahu si kecil sudah tertidur, saya dan istri melanjutkan jalan-jalan malam ke arah Mustafa Center, tentunya setelah mandi dan sholat isya.</p>
<p>Pukul 24.00 kami keluar The Hive, menyusuri Sengaroon Road ke arah Mustafa Center. Untuk diketahui Mustafa Center ini adalah salah satu mall atau pusat perbelanjaan terkenal di Little India karena buka 24 jam. Sekali lagi kamera saya beraksi untuk Night Shoot, saya tertarik dengan banyak gapura yang dihiasi lampu kerlap kerlip di sepanjang Serangoon Road tersebut. Satu gapura di bagian depan bertuliskan &#8220;Happy Deepavali&#8221;, itulah hari rayanya orang India. Kami terus menyusuri jalan tersebut sampai ke Mustafa Center.</p>
<p>Disini saya ingat untuk membeli oleh-oleh berupa parfum untuk orang-orang kantor. Tak lupa kami juga membeli cemilan dan oleh-oleh buat si kecil, yaitu boneka Mini Mouse kesukaan dia. Kami ingin memberikan surprise ketika dia bangun tidur keesokan harinya itu boneka sudah ada di kamar dia. Setelah puas berbelanja di Mustafa Center dan menikmati indahnya pemandangan kerlap kerlip lampu yang terpasang di sepanjang jalan tersebut, kami pun melangkahkan kaki kembali ke penginapan, The Hive.  Sekitar Pukul 01.30 pagi, kami sampai di penginapan kembali, dan acara berikutnya adalah&#8230;tiduuuuur.</p>
<p><em><strong>Hari Kedua</strong></em></p>
<p>Tujuan hari kedua adalah Singapore Botanic Garden (SBG). Bangun pagi, sarapan akhirnya baru jalan dari The Hive sekitar Pukul 09.30&#8230; rutenya naik MRT dari Stasiun Boonkeng, kemudian turun Stasiun Orchard, kemudian keluar dari Pintu E dan nyambung naik Bus No. 77 dan turun di Napier Road. Kami tiba di Napier Road pukul 10.50, kemudian menyeberang jalan menuju pintu gerbang masuk SBG. Disini tidak lupa foto-foto sebentar, kemudian baru masuk.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_007.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1921" title="Arel_Singapura Two_007" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_007.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Pukul 11.50, kami keluar dari SBG. Menyeberang jalan, dan disana masih ada penjual Es Krim yang dulu kami temui waktu kunjungan kali pertama, kami mampir dahulu istirahat sambil menikmati Es Krim Sgd 1,2. Sekitar Pukul 12.15, kami pun beranjak dari lokasi SBG.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1922" title="Arel_Singapura Two_008" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_008.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Tujuan selanjutnya adalah Orchad Road. dari Napier Road (SBG) kami naik Bus No. 7 yang mengarah ke Orchad Road. Sekitar Pukul 11.25 kami tiba di pelataran Orchad Road. Disini kami jalan-jalan di depan pusat pertokoan Lucky Plaza dan hanya menikmati pemandangan siang disana. lalu menuju Toko Buku Takasimaya karena Ibu mertua ingin mencari buku rajutan. Namun sayang buku yang dimaksud tidak ditemukan disini. Lalu kemudian istri menyempatkan mampir untuk membeli payung yang sudah dia incar sejak kunjungan pertama dulu. Dan sekarang baru kesampaian, hahaha. Kemudian kami makan di Food Court Lantai 4 pada pusat perbelanjaan tersebut. Sekitar Pukul 14.30, kami sudahi kunjungan di seputar Orchard.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0101.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1925" title="Arel_Singapura Two_010" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0101.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Tujuan kami selanjutnya adalah Bugis Street, pusat perbelanjaan yang terletak di daerah Bugis. Karena udara cukup panas, maka dari Orchard Road kami putuskan untuk naik MRT. Kami pun turun menuju Stasiun MRT Orchard Road untuk naik MRT ke arah dan berhenti di Stasiun Bugis. Kami tiba di Stasiun Bugis pukul 14.40. Di sini saya lihat si kecil kami sudah mulai mengantuk, tandanya adalah dia mulai minta gendong. Saya pun menuruti permintaannya sambil membuka kereta dorong dia. Tidak lama duduk di kereta dorong, si kecil kami pun tertidur pulas.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1926" title="Arel_Singapura Two_011" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_011.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Melihat si kecil yang tertidur pulas, saya tidak tega untuk membawanya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan Bugis Street, karena saya tahu lokasinya sangat ramai dan tidak memungkin buat dia yang lagi tertidur. Saya pun menyilahkan rombongan ibu-ibu untuk berbelanja atau sekedar hunting barang di Bugis Street, sementara saya menemani si kecil di depan Bugis Junction yang berseberangan dengan lokasi pusat perbelanjaan Bugis Street. Cukup lama juga dia tertidur, dan sambil menunggu, saya pun tak lupa membidikkan kamera ke arah objek-objek yang menarik, termasuk si kecil yang lagi tertidur. Dan sekitar Pukul 15.30 rombongan ibu-ibu akhirnya tiba. Si kecil kami masih tertidur pulas. Kami pun sama-sama istirahat sejenak sambil menikmati burger yang dibeli oleh istri. Merasa sudah cukup, kami pun membangunkan si kecil, dia mengulet dan tersenyum&#8230; wow&#8230; sampai sejauh ini saya bersyukur si kecil kami tetap tidak rewel dan malah menunjukkan sikap yang riang dan senang.</p>
<p>Sekitar Pukul 17.45 kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah Marlion Park, tempat Patung Singa lambang Singapura bertengger. Dengan menumpang Bus No. 30 dari depan Bugis Junction/Bugis Street akhirnya kami tiba di Halte Fullerton Hotel sekitar pukul 18.10. Dari depan Hotel Fullerton ini kami berjalan kaki menuju pelataran Marlion Park dan melintasi Marina Bay Sands. Disini kami berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar belakang Marina Bay Sands. Lalu kami melanjutkan menuju area Patung Marlion. Di lokasi ini sudah banyak pengunjung yang duduk dan pastinya berpose dengan latar Patung Marlion. Kami pun demikian. Bagi saya dan istri ini adalah kali kedua. Kesempatan ini tentunya tidak saya sia-siakan. Saya menyiapkan tripod, membersihkan lensa kamera dan mencoba beberapa view.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_012.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1927" title="Arel_Singapura Two_012" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_012.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Saya memperhatikan di sekitar. Sama seperti kami, kebanyakan pengunjung yang berada di tempat tersebut duduk-duduk menunggu sore berganti malam. Karena view yang terbentuk di lokasi tersebut akan sangat menarik dan indah dinikmati pada senja hingga malam hari. Dari lokasi Marlion Park, secara bebas kita bisa melihat view ke arah Marina Bay Sands, Singapore Flyer, Esplanade, serta gedung perkantoran diseputar Esplanade.</p>
<p>Karena lumayan lama menunggu pergantian senja ke malam, istri saya mengatakan bahwa lebih baik mereka menuju Esplanade sambil makan malam. Saya pun sepakat. Setelah itu istri, si kecil kami, ibu mertua bersama temannya istri berjalan kaki menuju Esplanade, sementara saya dengan setia menunggu di seputar Marlion Park.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1928" title="Arel_Singapura Two_013" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_013.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Senja pun berganti malam. Para juru keker yang dari tadi sudah menyiapkan peralatan mulai beraksi. Secara bergantian atau berbarengan saya dan beberapa pengunjung mulai mengarahkan kamera kepada beberapa view yang menjadi icon Singapura, mulai dari Patung Marlion sendiri, Marina Bay Sands, Esplanade, Singapore Flyer, gugusan gedung di seputar Esplanade, sampai gugusan gedung yang berada di sekitar Fullerton Hotel.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1929" title="Arel_Singapura Two_014" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_014.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Saking asyiknya membidikkan kamera, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Sadar belum makan malam, saya pun bermaksud menyudahi shoot dari lokasi Marlion Park. Kamera saya off kan dan tripod pun saya benahi. Begitu ingin melangkah menuju Esplanade, tiba-tiba dari arah Marina Bay Sands muncul sinar laser yang ditembakkan ke arah atas disertai dengan bunyi sound yang menggelegar lalu dilanjutkan dengan lagu. Wah, dengar punya dengar rupanya ini adalah pertunjukkan rutin yang disuguhkan pihak manajemen Marina Bay Sands bagi pengunjung di seputarnya, permainan sinar laser dengan durasi pertunjukkan selama satu putaran lagu (sekitar 15 menit). Pertunjukkan sinar laser ini rupanya rutin dipertontonkan setiap pukul 20.00.</p>
<p>Mendapati moment tersebut, saya bergegas ambil posisi tepat dipinggir sungai persis di depan view bangunan Marina Bay Sands yang arsitekturnya dibuat menyerupai kapal. Dengan cepat tripod dan kamera saya siapkan kembali. Sambil menikmati pertunjukkan yang begitu indah, tak henti-hentinya jari telunjuk saya memenjet tombol shutter, dan tak terasa sekitar 40 jepretan sudah saya lancarkan.</p>
<p>Begitu pertunjukkan selesai, saya bergegas menyusuri jalan dan jembatan menuju Esplanade. Dari atas jembatan beberapa kaki kamera saya bidikkan pada view yang semakin menarik bila dilihat dari atas. Gabungan Patung Marlion dan Marina Bay Sands ditambah lalu lalang beberapa perahu sangat menawan di ambil dari atas jembatan. Begitu juga gedung Esplanade dipadukan dengan Singapore Flyer dan Mandarin Hotel tak kalah menawannya. Sampai di Esplanade saya langsung mencari rombongan istri. Mereka tentunya sudah makan malam dari tadi. Saya pun mencari makan malam di Esplanade. Kali ini, tempat makan yang saya tuju sama dengan waktu pertama berkunjung ke sini, yaitu Kopi-O dengan menu yang dipesan adalah Laksa dan Teh-O.</p>
<p>Sekitar pukul 21.30 kami undur diri dari pelataran Esplanade. Kami berjalan menuju Halte Bus Esplanade (yang berada tepat di depan gedung Esplanade). Saya membuka catatan tahun lalu mencari nomor bus yang melewati Serangoon Road, No. 857. Begitu saya tutup buku kecil saya&#8230;di depan bus yang kami tunggu rupanya sudah ada. Kami pun bergegas naik. Sekitar pukul 22.15 bus yang kami tumpangi tiba dan berhenti di Halte Bus Serangoon Road. Saya lihat si kecil kami terlelap dalam gendongan istri. Begitu turun bus langsung saya ambil alih dan kami pun menyusuri jalan menuju penginapan (The Hive) yang tepat berada di seberang jalan. Puihhhh&#8230;. kaki rasa penaaat, tapi senang.</p>
<p><em><strong>Hari Ketiga</strong></em></p>
<p>Lokasi yang akan kami kunjungi di hari ketiga ini adalah Singapore Science Center (SSC). Sebelum tidur tadi malam, saya dan istri menyempatkan untuk googling rute menuju SSC. Baik itu rute MRT maupun Bus. Untuk Rute MRT, kita harus naik MRT dan nanti pemberhentian terakhir adalah stasiun Juroong East, nah dari sini kita bisa jalan kaki atau nyambung naik Bus yang lewat SSC. Sementara untuk Bus, salah satu trayek yang melewatinya adalah Bus No. 66.</p>
<p>Seperti biasa, pagi kami sarapan dulu di The Hive. Sambil sarapan saya memperhatikan lalu lalang mobil yang lewat di Serangoon Road. Secara gak sengaja, saya melihat ada Bus No. 66 melintas di depan.  Saya berpikir, secara logika berarti kami bisa menunggu Bus No. 66 dari dekat tempat kami menginap. Tapi berhubung jalan Serangoon Road satu arah, saya masih mereka-reka, dimana jalur sebaliknya. Selesai sarapan, saya lihat peta rute Bus. Rupanya jalan atau jalur sebaliknya ada di belakang tempat penginapan kami. Saya diskusi dengan istri, apakah akan naik MRT atau Bus. Berhubung kami menemukan Bus yang menuju SSC ada yang melalui tempat penginapan, kami pun memutuskan naik Bus.</p>
<p>Bergeraklah rombongan sirkus ini dari The Hive menuju jalan yang mengarah pada jalur yang dilalui Bus No.66 tadi. Sebelumnya kami menyempatkan membeli makanan untuk bekal disana nantinya. Mengingat dari postingan yang kami baca bahwa harga makanan yang ada di seputar SSC lumayan mahal. Bekal yang kami berupa burger serta bberapa botol air mineral yang kami beli di City Square Mall tak jauh dari The Hive. Cukup lumayan juga kami berjalan dan saya kebagian mendorong si kecil yang duduk di kereta dorongnya, sampai akhirnya tiba di halte bus yang kami tuju.</p>
<p>Selang beberapa waktu menunggu, sekitar Pukul 11.15 bus yang kami tunggu pun datang, kami pun naik dan kami bisa memperkirakan, berapa lama jarak tempuhnya. Saya coba tanya atau tepatnya memberitahu ke sopir bus bahwa nanti kami akan turun di SSC. Sopir bus tersebut hanya mengangguk tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Berdasarkan pengalaman kunjungan kali pertama, saya tidak kaget lagi dengan sikap sopir bus di singapura. Mereka memang agak enggan melayani pertanyaan dari calon penumpangnya, sepertinya mereka ingin menunjukkan bahwa mereka punya jadwal dan mereka hanya mengemudikan, jika terlalu lama waktu terbuang untuk meladeni pertanyaan penumpang maka bisa mengakibatkan jadwal bus mereka akan terganggu (hmmm&#8230; bisa aja ya saya menyimpulkan begitu&#8230;hehehehe).</p>
<p>Karena tidak bisa memperkirakan dan belum tahu lokasi tepatnya dimana SSC, saya merasakan perjalanan yang kami tempuh begitu lama. Tapi sekali lagi saya cukup terhibur manakala melihat si kecil kami begitu antusias memperhatikan sekitar dan tidak menunjukkan kerewelan. Satu jam kemudian (tepatnya pukul 12.30) kami pun tiba di SSC. Kami membeli tiket terusan sekalian untuk masuk Snow City seharga Sgd 16 untuk dewasa dan Sgd 14 untuk anak-anak.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_015.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1932" title="Arel_Singapura Two_015" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_015.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Setelah mendapatkan tiket kami putuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Kami keluar gedung dan menuju taman, yang disebut Kinetic Garden. Mengapa disebut demikian? mungkin karena di taman tersebut disuguhkan beberapa permainan dengan menggunakan logika teknologi. Sambil makan, si kecil kami pun mondar mandir mencoba beberapa permainan seperti Curve Beam Balance, Energy Machine-Windmill, Lithopone, dan beberapa mainan lainnya. Permainan-permainan tersebut memang menarik buat anak kecil karena cukup mengundang rasa ingin tahu. Seperti misalnya Lithopone, bentuknya persisi menyerupai angklungnya Indonesia, hanya saja ini terbuat dari semen (tepatnya saya kurang paham). Nah tentunya si kecil kami komentar&#8230;papa, kok semen ini kalo dipukul ngeluarin suara kayak musik ya pa&#8230;.&#8221;. Saya hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_016.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1933" title="Arel_Singapura Two_016" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_016.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Setelah kenyang, kami mulai melanglang buana di bagian dalam SSC sendiri. Untuk tanda masuk tangan kita akan di cap dan hanya bisa dilihat ketika dibawah sinar. Di bagian dalam, SSC dibagi-bagi menjadi berbagai area seperti  The Mind’s Eye, Mathematics, Sounds, Discovery Zone, Climate Change, Newton Room, Robotic Learning Center, dan masih banyak lagi. Sementara di bagian luar, selain Kinetic Garden yang sudah kami kunjungi tadi, masih ada Eco Garden, dan Waterworks. Bagian per bagian kami masuki dan kami coba. Saya pun tak lupa membidikkan kamera pada bebrapaobjek yang menarik. Saya lihat si kecil kami begitu senang dan sangat antusias untuk mencoba setiap permainan yang ada di hadapannya.</p>
<p>Dari areal dalam SSC, kami pun melanjutkan kunjungan ke Snow City. Sesuai dengan namanya, di snow city kita bisa merasakan dan menikmati permainan salju. Lorong menuju Snow City tersambung dengan gedung SSC, tepatnya jika kita keluar ada di sayap kiri. Kami menelusuri lorong atau koridor tersebut, nanti kita akan melewati Omni Theatre. Dari sini kita lanjut terus keluar gedung Omni Theatre tersebut dan berjalan ke arah kiri. Nah nanti di depan akan terlihat bangunan dengan tulisan di depannya Snow City.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_017.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter  wp-image-1935" title="Arel_Singapura Two_017" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_017.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a></p>
<p>Kami masuk lalu melapor ke petugasnya. Rupanya disini kita harus meninggalkan semua barang bawaan kita, termasuk kamera (kecuali dompet), karena kita tidak diperkenankan untuk memotret di dalam. Untuk pakaian berupa jaket, celana, sarung tangan, dan sepatu kita harus menyewa (artinya tidak termasuk dalam harga tiket yang sudah kita beli). Nanti kita akan mendapatkan kunci loker. Kita masukkan semua barang dan untuk membukanya nanti kita harus memasukkan koin sebesar Sgd 1, baru kuncinya bisa terbuka.</p>
<p>Setelah memakai seluruh perlengkapan, kami pun mulai masuk. Udara dingin mulai terasa dan begitu didalam wow&#8230; kita merasa benar-benar berada di daerah bersalju. Di sini kita bisa bermain salju, membuat boneka dan sebagainya., termasuk bisa mencoba berseluncur dengan ban di trek yang memang khusus dibuat untuk itu. Melihat trek meluncur tersebut si kecil kami yang pertama kali malah meminta. Wow&#8230; ternyata berani juga nyali ini anak, pikir saya. Karena dia mau, akhirnya kami pun mencoba trek meluncur tersebut, saya, istri dan si kecil, sementara ibu mertua menunggu di pinggir.</p>
<p>Treknya lumayan tinggi dan daya luncurnya lumayan cepat dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Kami mengantri dan begitu tiba giliran kami pun menyiapkan ban dan mengatur posisi untuk meluncur bertiga, saya di bagian depan, si kecil di tengah dan istri saya di belakang, dan kemudian&#8230;. wusssshhhhhh&#8230;.. kami pun meluncur. Si kecil kami berteriak kegirangan, saya dan istripun demikian. Dan sampai di bawah juru poto sudah siap memotret kita. Si kecil kami meminta mengulang lagi, kami pun mengabulkan permintaannya ini. Kami mengantri dan meluncur sekali lagi.</p>
<p>Untuk foto, sebelumnya kami sudah diberi penjelasan bahwa mereka akan memotret tanpa di minta atau pun sesuai dengan permintaan kita, nah nanti kita akan diberi kupon, dan begitu keluar terserah kita mau ambil itu poto atau tidak. Kita bisa melihat dulu hasilnya pada komputer yang sudah disediakan. Kita tinggal cari sesuai sesuai dengan nomor kupon yang kita pegang. Kalau kita ingin mencetak itu foto tinggal memberitahu petugas serta menunjukkan foto mana yang akan dicetak. Tentunya dengan membayar seharga yang tertera disana. Dari beberapa jepretan di dalam tadi, akhirnya kami ambil satu poto dengan ukuran 10R dan membayar Sgd 20&#8230;.:-)</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1936" title="Arel_Singapura Two_018" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_018.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></p>
<p>Dari Snow City hujan mulai turun, namun karena si kecil ingin main di area Waterworks, akhirnya kami coba menunggu. Disini pengaturannya sangat disiplin, untuk wahana Waterworks ini (karena lokasinya di luar gedung), maka begitu hujan turun seluruh permainan akan dihentikan sampai menunggu hujan benar-benar berhenti baru dibuka kembali. Begitu hujan berhenti dan wahana tersebut dibuka, si kecil kami langsung meminta. Kami pun mencoba menghubungi petugasnya, setelah rembukan sebentar dengan managernya dan si manager mengecek di lapangan bahwa hujan memang sudah berhenti akhirnya kami dipersilahkan masuk.</p>
<p>Wah, si kecil kami girangnya bukan kepalang. Dia langsung minta ganti baju renang yang memang sudah kami siapkan dan bawa dari jakarta. Begitu selesai ganti baju dia langsung berlari dan gabung dengan anak-anak lainnya yang berasal dari beberapa negara. Di sinilah saya semakin takjub dengan si kecil kami, meskipun dia tidak kenal dan tidak mengerti bahasa teman-teman barunya tersebut dia berani untuk mengajak bermain. Hmmm&#8230;.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1937" title="Arel_Singapura Two_019" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_019.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Puas bermain di wahana Waterworks, kami pun berniat menyudahi kunjungan di seputar SSC tersebut. Karena si kecil kami meminta makan, akhirnya kami istrirahat makan di McDonald yang tersedia disana. Setelah makan, kami pun undur diri dengan perasaan senang. Utamanya melihat si kecil senang. Yaaa&#8230; berkunjung ke SSC ini memang kami atur spesial untuk dia. Kami ingin menunjukkan kepada dia bahwa dalam kunjungan ini mama papanya juga bisa menepati janji dengan memberikan satu hari penuh sebagai hari-nya dia.</p>
<p>Keluar dari SSC waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Kami putuskan untuk naik Bus No. 66 untuk kembali ke penginapan. Saya lihat si kecil kami mulai menampakkan gelagat kengantukannya. Benar saja, selang beberapa menit Bus jalan, dia pun tertidur. Tapi ndak apa-apa, jika diukur waktu tempuh ketika pergi tadi, minimal satu jam dia bisa tidur pulas. Di perjalanan Ibu Mertua berkeinginan untuk mampir ke Mustafa Center, kebetulan Bus No. 66 juga melewati lokasi tersebut. Merasa masih belum puas hunting foto di seputar Marlion Park dan Esplanade kemarin maka saya utarakan ke istri untuk kembali ke sana. Akhirnya kami sepakati ketika turun bus nanti kami misah, istri beserta si kecil dan Ibu mertua belanja di Mustafa Center sementara saya kembali ke seputar Esplanade.</p>
<p>Karena ingin ke Mustafa Center, kami turun di Halte Bus Ferral Park (tepat di depan City Square Mall dan Stasiun MRT Ferrar Park). Disini kami pun misah. Sebelum ke Mustafa Center, istri memutuskan makan malam dulu di City Square Mall. Saya sendiri lanjut menuju stasiun MRT Ferrar Park, naik MRT menuju dan berhenti di stasiun Raffles Palace.</p>
<p>Begitu keluar, view Singapore River dan Hotel Fullerton begitu menawan. Saya mulai memasang tripod dan kamera serta mengambil beberapa foto. Kemudian saya beralih ke jembatan yang ada tepat di depan Hotel Fullerton. Saya ambil beberapa view dari jembatan tersebut, termasuk view tepat dari depan Hotel Fullerton. Lalu lalang perahu di sungai semakin menambah cakep view yang tercipta.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1939" title="Arel_Singapura Two_020" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0201.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Dari depan pelataran Hotel Fullerton, saya melanjutkan penelusuran menuju seputar Esplanade. Kali ini saya coba awali memotret dari atas jembatan untuk mengulangi kembali memotret dengan view Patung Merlion, Marina Bay Sands, Esplanade, dan gugusan gedung seputarnya.</p>
<p><img class="aligncenter" title="Arel_Singapura Two_021" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_021.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Dan beruntung sekali lagi saya mendapati suguhan pertunjukkan sinar laser dari arah Marina Bay Sands. Sama dengan kemarin, pertunjukkannya berdurasi satu putaran lagu. Ternyata view dari atas jembatan tidak kalah menawannya, bahkan terkesan lebih luas karena jangkauan bisa mendapatkan beberapa view sekaligus.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1950" title="Arel_Singapura Two_000" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_000.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Dari atas jembatan, saya berjalan turun kembali menuju depan Esplanade. Sekali lagi view gugusan gedung di sekitar Marina Bay Sands dan Patung Merlion sangat menawan. Saya shoot beberapa poto dari sini. Saya terus bergeser menuju Outdoor Theatre tepat di depan pintu masuk Esplanade. Di sini saya coba shoot beberapa kali, utamanya dengan latar Marina Bay Sands. Saking asyiknya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.</p>
<p>Saya sebenarnya berniat menyudahi hunting foto malam itu. Yang saya pikirkan adalah jadwal bus yang akan saya tumpangi kembali ke penginapan (Bus No. 857), karena untuk naik MRT rasanya sudah tidak mungkin. Tapi saya penasaran dengan jembatan yang menghubungkan pelataran Youth Olympic menuju gedung Marina Bay Sands. Saya pun mengurungkan niat ke halte bus, tapi lanjut mengayuhkan langkah menuju jembatan tersebut. Benar saja, disana masih banyak pengunjung yang tengah membidikkan kameranya. View jembatan ini memang sangat menawan, baik dari aspek arsitekturnya maupun penempatan lampu-lampu yang menimbulkan pencahayaan yang indah. Saya pun mengambil beberapa foto disini.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter  wp-image-1944" title="Arel_Singapura Two_023" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_023.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></p>
<p>Merasa cukup dan perasaan khawatir tidak dapat bus menuju penginapan, saya bergegas menuju halte bus. Waktu menunjukkan pukul 23.30, perasan was was mulai menghantui isi kepala saya manakala bus yang ditunggu tidak kunjung datang. Saya berpikirkan, kalau sampai tidak ada bus lagi ya sudah terpaksa bergadang sampai pagi nongkrong di depan esplanade, lalu pagi-pagi ambil MRT pertama menuju ke penginapan. Lagi berpikir seperti itu, eeee&#8230;. busnya muncul. Alhamdulillah, tidak jadi meginap disana&#8230;. Perasaan was was tadi berubah menjadi perasaan senang dan puas karena bisa hunting foto di hampir semua bagian tempat yang menjadi icon Singapura.</p>
<p><em><strong>Hari Keempat</strong></em></p>
<p>Hari keempat adalah hari kepulangan kami ke Jakarta. Setelah membereskan koper dan sarapan pagi berjamaah di hostel, kami pun menyelesaikan urusan administrasi check out di meja resepsionis, proses ini berlangsung sekitar 15 menit. Disini kami berpisah dengan teman satu kantor istri, karena jadwal pesawat dia pada sore hari.</p>
<p>Perjalanan dari The Hive ke stasiun MRT Boonkeng (cukup dgn jalan kaki) sekitar 5 menit… terus perjalanan di dalam koridor MRT nya sendiri menuju tempat menunggu MRTnya lebih kurang 5 menit…jdi disini plus minus 10-15 menit (kalo bawaan barang kita ndak banyak bisa ambil langkah cepat..hehehe).</p>
<p>Sebagaimana waktu datang, perjalanan dari stasiun Boonkeng ke Stasiun Changi ditempuh sekitar 1 jam 15 menit. Ini tentunya sudah diperhitungakan plus minus pergantian MRT. Ternyata waktu yang tersisa sangat mepet. Begitu tiba di Stasiun Changi (di Terminal 2 Changi Internasional Airport), kami bergegas menuju tempat menunggu Feeder Bus yang akan mengangkut kami ke Budget Terminal. Saya melirik jam, begitu mepet dengan waktu take off. Namun saya berusaha tenang.</p>
<p>Perjalanan dari MRT ke halte Bus tersebut sekitar 20 menit jalan cepat. Begitu tiba di Halte Feeder Bus tersebut kami harus menunggu dulu karena feeder bus- nya ada dan jalan setiap 15 menit sekali. Perjalanan dari Halte Feeder Bus di Terminal 2 menuju Budget Terminal sendiri memakan waktu sekitar 20-30 menit. Begitu sampai, kami turun dan langsung memasuki areal pemeriksaan Imigrasi dan X-ray lalu baru menuju tempat Check in pesawat Tigers… proses dari turun BUS sampai tiba di depan petugas di meja Check in bisa memakan waktu sampai dengan 30 menit.</p>
<p>Dan&#8230; untunglah&#8230; begitu tiba di depan meja check in Tiger Airways di depan kami masih terdapat antrian, artinya minimal kami tahu bahwa proses check in masih berlangsung. Kami pun sedikit bernafas lega. Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta akhirnya take off sekitar pukul 11.30 waktu Singapura dan mendarat di Soekarno Hatta sekitar pukul 12.15 waktu Jakarta. Disini kami baru benar-benar bernafas lega&#8230;.</p>
<p>Sebuah perjalanan yang menyenangkan untuk kami semua, terutama untuk si kecil kami. Saya dan istri sangat senang dan bangga dengan dia yang tidak menunjukkan kerewelan selama di Singapura bahkan senantiasa bersikap manis dan ceria. Yang terpenting lagi adalah beberapa kondisi kedisiplinan yang ditemui selama di Singapura, sedikit banyak tertanam dalam ingatan dia. Tiba di Jakarta si kecil kami berkata bahwa jika papa mama punya rejeki dede mau ke Singapura lagi&#8230; hahaha&#8230; Insya Allah ya nak. Doakan saja mama papa dapat rejeki lagi, supaya kita bisa jalan-jalan lagi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-umum/'>Edisi Umum</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/bugis-street/'>Bugis Street</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/changi-international-airport/'>Changi International Airport</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/esplanade/'>Esplanade</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/marina-bay-sands/'>Marina Bay Sands</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/marlion-park/'>Marlion Park</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/orchard-road/'>Orchard Road</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/sentosa-island/'>Sentosa Island</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore-botanic-garden/'>Singapore Botanic Garden</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore-science-center/'>Singapore Science Center</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/songs-of-the-sea/'>Songs of the Sea</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/the-hive-hostel-singapore/'>The Hive Hostel Singapore</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1865/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1865&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2012/01/02/singapura-kunjungan-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_022.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_022</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_001.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_001</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_002.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_002</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_003.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_003</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0041.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_004</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_005.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_005</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_007.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_008.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_008</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0101.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_010</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_011.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_011</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_012.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_012</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_013.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_013</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_014.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_014</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_015.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_015</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_016.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_016</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_017.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_017</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_018.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_018</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_019.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_019</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_0201.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_020</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_021.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_021</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_000.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2012/01/arel_singapura-two_023.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arel_Singapura Two_023</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjajal Trek Downhill Cikole dan Hutan Pinus Jayagiri</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/10/02/menjajal-trek-downhill-cikole-dan-hutan-pinus-jayagiri/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/10/02/menjajal-trek-downhill-cikole-dan-hutan-pinus-jayagiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 09:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Gowes]]></category>
		<category><![CDATA[Trek Downhill Cikole]]></category>
		<category><![CDATA[Trek Hutan Pinus Jayagiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1852</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu dua puluh empat september dua ribu sebelas, akhirnya saya dan tim goweser dari Cibubur Cycling Community (C3) Chapter Perumahan The Address@Cibubur kesampaian juga menjajal Trek Downhill Cikole dan Hutan Pinus Jayagiri. Bagi Team Goweser The Address, ini adalah gowes &#8220;perdana&#8221; ke lokasi tersebut yang dilakukan secara group, sebelumnya sudah ada yang pernah ke sana, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1852&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1960" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/306347_10150316815933877_695793876_8295478_171460048_n.jpg" target="_blank"><img class=" wp-image-1960 " title="306347_10150316815933877_695793876_8295478_171460048_n" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/306347_10150316815933877_695793876_8295478_171460048_n.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber foto: Dede R. Hidayat Facebook</p></div>
<p>Sabtu dua puluh empat september dua ribu sebelas, akhirnya saya dan tim goweser dari Cibubur Cycling Community (C3) Chapter Perumahan The Address@Cibubur kesampaian juga menjajal Trek Downhill Cikole dan Hutan Pinus Jayagiri. Bagi Team Goweser The Address, ini adalah gowes &#8220;perdana&#8221; ke lokasi tersebut yang dilakukan secara group, sebelumnya sudah ada yang pernah ke sana, namun secara sendiri-sendiri atau ikut dengan kelompok goweser lainnya. Bagi saya pribadi, sumpah, ini adalah trek downhill kedua menantang setelah Pondok Pemburu. Ya, maaf-maaf kata, karena saya baru berkesempatan menjajaki dua trek itu, sedangkan yang lainnya belum ada kesempatan, hehehe.<span id="more-1852"></span></p>
<p>Rencana gowes ke Cikole ini sudah dibicarakan jauh-jauh hari, tepatnya sebelum idul fitri 1432 H (2011). Ketika pertama kali diinfokan, saya agak ragu juga untuk ikut. Pertama, mendengar kata trek downhill Cikole itu sendiri yang sudah terkenal dan seharusnya memerlukan spesifikasi sepeda yang khusus, yaaa&#8230; minimal fulsus&#8230; sementara sepeda yang saya punya adalah Hardtrail. Saya masih terbayang ketika menjajal trek Pondok Pemburu, sempat keteter dan hampir koprol alias mencium tanah. Kedua, secara gowes sendiri, akhir akhir ini, tepatnya dua bulan belakangan saya sangat jarang gowes di seputar jalur C3 Cibubur. Sehingga agak sanksi juga, apalagi yang akan dihadapi adalah trek yang sudah terkenal, baik di kalangan goweser biasa maupun para atlit downhiller.</p>
<p>Satu minggu sebelum tanggal keberangkatan yang direncanakan, saya masih belum mengiyakan alias tetap ragu-ragu untuk ikut, kira-kira mampu gak nih sepeda hardtrail saya masuk ladang downhill. Keragu-raguan saya semakin menjadi dengan peristiwa meninggalnya Downhiller dari Klub XC Malang, Om Herry Budiono, dalam ajang latihan resmi Unifikasi Komunitas Downhill Indonesia (UKDI) seri ke-5 di Malang, 15 September 2011 lalu (meskipun gak kenal langsung turut berduka cita yang mendalam).</p>
<p>Sampai pada satu hari sebelum keberangkatan rekan goweser satu komplek mencoba meyakinkan saya bahwa treknya gak se-ekstrim trek Malang, meskipun dia sendiri juga belum pernah menjajal alias baru dengar dari yang sudah pernah ke Cikole. Sekali lagi pertanyaan utama saya adalah kira-kira hardtrail saya bisa masuk gak. Secara rekan goweser di komplek hampir semuanya sudah pakai sepeda fulsus (minder sendiri&#8230;hahahaha). Namun karena rasa penasaran pula, akhirnya saya menyatakan &#8220;oke&#8221; dengan tentunya tak lupa ngurus &#8220;visa&#8221; dengan orang rumah, terutama si kecil&#8230;</p>
<p>Karena jarak yang cukup jauh dan supaya tidak terburu-buru, loading sepeda dilakukan pada jumat malam. Janjinya jam delapan, tapi berhubung pada kerja akhirnya sukses loading dari jam sembilanan sampai kira-kira sekitar jam dua belas malam. Goweser The Address yang berangkat kali adalah Om Mail, Om Adi, Om Benny, Om Eman, Om Dwi, Om Andi, saya sendiri, dan terakhir ada Om Eddy. Disamping itu ikut serta juga Om Rizal (temannya Om Benny).  Karena Om Eddy sudah pernah ke Cikole sebelumnya, maka dalam rombongan ini nantinya beliau kita tunjuk sebagai Leader dan sambil merampungkan acara loading Om Eddy turut memberikan gambaran sedikit tentang jalur yang akan kami tempuh besok.</p>
<p>Tepat Pukul 05.30 WIB Sabtu, berangkatlah rombongan sirkus The Address menuju Bandung dengan menumpang dua mobil rekan goweser, sehingga ditambah pick up yang membawa sepeda total tiga mobil. Sebelum berangkat kita urunan dulu sebesar 200 ribu satu orang. Dikatakan rombongan sirkus karena secara spesifikasi sepeda tak satu pun dari kita yang menggunakan sepeda khusus trek downhill. Wajar saja, seperti yang dikatakan Om eddy, kita adalah rombongan pecinta Cross Country. Hanya model dengkul dan keinginan menjajal itu trek aja yang menguatkan kita semua.</p>
<p>Sekitar Pukul 07.30 WIB, kami keluar pintu tol pasteur. Saya kebetulan satu mobil dengan Om Eman, Om Mail dan Om Andi. Ternyata kami yang tiba atau keluar tol pasteur duluan. Supaya make sure rute selanjutnya, kami putuskan untuk menunggu dua mobil lainnya. Dinginnya udara Bandung turut mempengaruhi aliran diujung bawah, sehingga terpaksa dikeluarkan dibawah pohon disemak-semak pinggir tol. Sekitar sepuluh menit menunggu, dua mobil lainnya tiba. Kita diskusi sebentar tentang arah yang akan ditempuh dan tempat perhentian terakhir alias parkir, tentunya dengan arahan dari Om Eddy. Disepakati untuk parkir mobil di Mesjid Besar Lembang.</p>
<p>Pukul 08.30 WIB kami tiba di pelataran parkir Mesjib Besar Lembang. Lokasi mesjid ini tidak jauh dari RM Ayam Makan Brebes Lembang. Disini sudah menunggu rekan gowes dari kantor Om Benny (Radio Delta FM)&#8230; Om Iwoch, Tante Dede beserta Suami (Om Mardi) dan Om Purwoko. Yang membuat kami surprise ternyata diantara rombongan goweser dari Radio Delta FM ini dua orang belum pernah menjajal atau bersepeda di jalur tanah (Cross Country), yaitu Tante Dede dengan suaminya. Selama ini mereka gowes di jalur aspal, itu pun baru beberapa bulan mulai. Disamping itu, sudah menunggu juga dua pick up yang disewa dari Bandung untuk mengangkut kami nantinya menuju dan selama di Cikole.</p>
<p>Beruntung sahabat dari C3 DH-Elite mengirim Om Dennis Nugraha (yang kebetulan dikontak oleh Om Eddy) datang untuk mengawal kami nantinya. Begitu Om Dennis tiba, kami yang memang sudah siap sebelumnya langsung melakukan briefing. Briefing langsung dipimpin oleh Om Eddy dan Om Dennis. Disini kami dijelaskan gambaran umum kondisi trek yang akan kami hadapi. Mmmmm&#8230;.. cukup ciut juga mendengarnya, tapi ya&#8230;. mau dibilang apa, tinggal dihadapi saja, lagian kalo gak nekat begini kita semua gak bakalan tahu&#8230;</p>
<p>Setelah doa bersama, sekitar Pukul 09.00 WIB kami beranjak meninggalkan  parkiran Mesjid Besar Lembang menuju trek downhill Cikole yang terletak di Lokasi Wisata Taman Hutan Pinus Jayagiri Bandung dengan menumpang dua mobil pick up. Sementara sepeda tetap berada di pick up yang kami bawa dari Jakarta. Jumlah total goweser dalam rombongan kami adalah 14 orang. Perjalanan dari Mesjid Besar ke pintu gerbang masuk Taman Wisata ini sekitar 15 menit. Disini kami membayar tiket masuk sejumlah orang. Kami pikir pintu gerbang masuk tersebut adalah tempat start-nya. Namun ternyata masih lanjut lagi.</p>
<p>Dari pintu gerbang, pick up yang kami tumpangi melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan yang dilalui campuran antara aspal dan bebatuan dengan pemandangan hutan pinus yang menyejukkan pada sisi kiri dan kanan. Belum tiba di lokasi start kami distop oleh salah seorang goweser yang ingin menumpang sampai ke atas, namanya Om Riky. Sepanjang perjalanan Om Riky menjelaskan sekilas gambaran umum trek downhill Cikole, yang tentunya hampir sama dengan penjelasan Om Dennis ketika briefing tadi.</p>
<p>Dari penjelasan Om Dennis dan Om Riky intinya trek Downhill Cikole terbagi dari beberapa jalur, mulai dari yang ekstrim (khusus untuk spesifikasi sepeda downhill) hingga untuk para pemula yang baru menjajal atau ingin mencoba dengan sepeda yang beragam spesifikasi (lebih dikenal dengan istilah chicken way). Trek utamanya sendiri berjarak 1,4 km dan bisa ditempuh sekitar 5 menit waktu tempuh normal. Sehingga kita nantinya bisa mengulang beberapa kali. Om Ricky sendiri mengatakan kalau lagi asyik bisa sampai belasan kali bolak balik di trek utama tersebut. Wow&#8230;.. belasan kali? gak salah? hahaha&#8230;. belakangan baru saya tahu kalau Om Ricky ini adalah salah satu downhiller Bandung.</p>
<p>Sambil asyik ngobrol dan mendengarkan cerita Om Ricky, tak terasa kami tiba di lokasi start trek Downhill. Di lokasi ini sudah penuh dengan pada Downhiller dari Bandung dengan spesifikasi sepeda khusus downhill yang bikin ngiler..ler..ler&#8230;. hahaha. Ada yang pakai intens, yety, knoly, santa cruz, dan lainnya. Saya sendiri mumet menghafalnya.</p>
<p>Menyaksikan pemandangan tersebut lumayan membuat ciut hati dan pengen undur diri dari itu trek, hahaha. Satu per satu mereka meluncur menuju trek dan hilang di rimbunnya semak belukar hutan pinus. Sekali lagi kami di briefing oleh Om Dennis. Demi keselamatan, kami melakukan instruksi menurunkan seat post serendah mungkin dan mengurangi tekanan angin ban sepeda supaya tidak terlalu kencang. Kesempatan pertama ini akan dijadikan ajang pengenalan trek. Jadi kami diingatkan senantiasa waspada dan tidak terlalu terburu-buru. Kami juga diingatkan untuk senantiasa mengatur teknik pengereman serta posisi badan ketika layaknya di jalur turunan. Semua penjelasan atau instruksi yang diberikan betul-betul saya perhatikan, maklum&#8230; selain tantangan trek, tantangan tambahan bagi saya adalah jenis or spesifikasi sepeda&#8230; hardtrail&#8230;:-)</p>
<p>Sekitar Pukul 10.15, setelah merasa cukup mantab dan mengatur posisi urutan goweser, kami pun mulai memasuki trek. Sempat degdegan juga di awal manakala bertemu dengan bagian trek yang patah dan merupakan turunan curam. Untuk kali pertama ini saya tidak mau ambil resiko&#8230; turun kaki adalah keputusan terbaik, ketimbang koprol. Setelah merasa turunan yang akan dilalui di depan cukup aman baru saya naik kembali.</p>
<p>Pelan-pelan rombongan kami melewati bagian per bagian dari jalur yang memang baru dan sangat membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Padahal yang kami lewati adalah bagian trek yang disebut chicken way, tapi tetap tidak mudah dan harus awas mata. Dan benar saja&#8230; pada satu tikungan tajam dan lumayan curam satu rekan goweser, yaitu Tante Dede, terjatuh dan hampir terjungkal. Masih untungnya posisi laju sepedanya tidak terlalu kencang sehingga posisi tubuhnya tidak terlalu terbentur keras ke tanah. Kami seketika memberikan pertolongan dan berhenti sejenak. Beruntung lagi Tante Dede bisa berdiri kembali, dan setelah yakin tidak ada apa-apa baik dengan Tante Dede sendiri maupun dengan sepedanya, kami pun melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Dalam setiap kali bersepeda, saya senangnya memilih berada di bagian belakang atau tengah rombongan. Gak tau kenapa, namun bagi saya posisi tersebut membuat saya nyaman dalam mengatur ritme. Kali ini pun demikian, saya memilih berada di posisi nomor tiga dari belakang. Baru saja kita mulai jalan lagi&#8230;pada satu turunan dengan tikungan tajam&#8230; tiba-tiba Om Andi yang berada di depan saya terjatuh dengan posisi terlempar dari sepeda. Karena saya tepat di belakang beliau, maka saya melihat persis bagaimana Om Andi terlempar, pertama sepeda beliau terbalik dan diikuti oleh Om Andi dengan posisi bagian muka yang pertama kali terhempas ke tanah, kemudian tubuh beliau terguling hingga dua kali lalu terseret sampai akhirnya diam. Saya langsung menekan rem dan sempat panik juga menyaksikan kejadian beliau, sambil saya sendiri berusaha menghentikan laju sepeda secepatnya (karena tidak begitu mudah menghentikan laju sepeda pada kondisi turunan seperti itu, alih-alih kalau tidak hati-hati kita sendiri bisa menyusul terjungkal&#8230;).</p>
<p>Begitu sepeda saya berhenti saya segera lempar dan bergegas menuju ke posisi Om Andi terkapar. Saya liat beliau gemetaran dengan mata seperti orang yang tidak bisa melihat. Wah saya makin panik&#8230; diam sesaat sambil posisi berusaha memangku kepala beliau, sampai akhirnya tersadar dengan ucapan beliau yang minta dibantu duduk. Alhamdulillah akhirnya beliau bisa ngomong dari yang tadinya diam dan kaku. Saya tidak serta merta menuruti ucapannya, karena saya belum yakin betul kondisi beliau terutama bagian kepala dan leher. Saya khawatir jika terjadi sesuatu di bagian tersebut (karena memang saya lihat posisi beliau terjatuh) dan kemudian beliau saya angkat maka akan memperparah. Maka dari itu saya bilang ke Om Andi untuk sementara tetap tiduran dulu di tempat supaya bisa tenang dulu.</p>
<p>Teman goweser lain kemudian tiba di posisi kami dan turut memberikan arahan pertolongan, mengecek kondisi dan memandu memulihkan kondisi beliau supaya bisa tenang. Syukurlah, setelah dicek tidak ada bagian tubuh Om Andi yang terluka parah atau sampai patah sebagaimana yang kami khawatirkan. Yang pasti luka lecet di pelipis dan pipi yang tampak dari luar. Setelah merasa yakin, khususnya bagi Om Andi, kami pun melanjutkan meluncur di trek. Berkaca dari kejadian tersebut kami semua semakin meningkatkan kewaspadaan mengingat jalur yang dilalui semakin menggila.</p>
<p>Sebelum lanjut tadi saya sempat mengamati bagian jalur yang membuat sepeda Om Andi terjungkal. Memang tidak bisa dihindari khususnya bagi kami yang baru pertama melintas disini. Sebelum titik tersebut kondisi jalur berupa turunan dengan tikungan tajam dan dihalangi semak. Pada titik jatuhnya sepeda tersebut ternyata ada bagian yang berupa gundukan tanah dan setelah gundulan tersebut dibuat lekukan patah dan agak berlubang. Posisi kaget dan mengerem sepertinya yang menyebabkan sepeda Om Andi terjungkal. Karena saya perhatikan tadi setelah ban depannya melewati gundukan langsung terjatuh dan membentur bibir lekukan tanah dibawahnya, sehingga ban depan tertahan dan menyebabkan sepeda koprol. Ditambah lagi posisi seat post sepeda beliau yang masih tinggi sehingga mempengaruhi posisi tubuh. Hmmmm&#8230;&#8230;.</p>
<p>Selang beberapa menit kemudian kami pun tiba di titik finish yang berupa tikungan miring dan superball untuk jumping. Tentunya diantara kami tidak ada yang berani melewati bagian tersebut, karena merasa tau diri dengan spesifikasi sepeda yang dipakai, hehehe. Kami beristirahat dulu dan Om Andi mendapatkan penanganan/pearawatan lebih lanjut dari Tim kesehatan jalur. Total waktu tempuh pada penjajakan kali pertama adalah lebih kurang lima manit.</p>
<p>Merasa kondisi sudah pulih, termasuk Om Andi, kami siap-siap mengulang jalur. Sepeda di loading kembali ke pick up dan dengan menumpang pick up tersebut kami berangkat menuju posisi start. Tiba di tempat start kami atur posisi goweser. Kali ini yang sedikit berisiko dengan sepedanya ditarok diurutan tengah, saya sendiri ada di barisan belakang. Setelah melakukan persiapan, kami pun kembali meluncur. Untuk yang kali kedua ini rasanya tidak setegang yang pertama, mungkin karena mulai terbiasa dengan kondisi jalur yang dilalui. Namun disini tetap terjadi insiden. Kali ini Tante Dede kembali terjatuh, beberapa meter dari garis finish karena ban sepedanya melindas akar pohon pada satu tikungan tajam. Tapi untungnya tidak parah dan Tante Dede bisa melanjutkan sampai finish.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/297329_10150316815688877_695793876_8295471_466411451_n.jpg" target="_blank"><img title="297329_10150316815688877_695793876_8295471_466411451_n" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/297329_10150316815688877_695793876_8295471_466411451_n.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber foto: Dede R. Hidayat Facebook</p></div>
<p style="text-align:center;">
<p>Kami kemudian istirahat sebentar sambil menyantab gorengan. Lalu kembali loading sepeda ke pick up untuk siap-siap menuju tempat start kembali. Untuk kali ke-tiga ini Tante Dede memutuskan untuk tidak ikut, sementara Om Andi masih oke untuk ikut. Sekali lagi kami pun dibawa oleh pick up menuju tempat start. Ambil posisi sebentar&#8230;lalu meluncur kembali. Perjalanan mulus tanpa hambatan, semua goweser mungkin sudah mulai paham dengan rute yang dilalui. Hanya saja ketika masuk garis finish Om Adi mencoba jalur superball dan&#8230;..gedubrak! Om Adi terjatuh di bagian dasar jalur yang berlapiskan pasir. Sekali lagi untunglah kondisinya tidak parah.</p>
<p>Dari sini kami tidak langsung istirahat, tapi melanjutkan mencoba single trek yang panjangnya sekitar 0,3 km. Melewati trek ini adrenalin kita lumayan dipacu mengingat trek yang dilalui sangat sempit dan berbatasan langsung dengan  jurang. Saya sendiri pada bagian pertama trek tidak berani menaiki sepeda karena turunannya sangat curam dan terjal, alih-alih kalo ndak bisa handle sepeda langsung meluncur masuk ke jurang. Maka dari itu saya tidak berani ambil resiko. Baru kemudian pada bagian yang sedikit aman saya mulai mengayuh. Tapi lagi-lagi tantangan buat saya yang menggunakan sepeda Hardtrail, hampir bisa dipastikan sembilan puluh persen pantat saya tidak duduk pada tempatnya, maklum lah&#8230; daripada daripada&#8230;hehehe&#8230; Tiba di jalan utama, kami sempatkan foto-foto dulu sembari menunggu loading sepeda ke pick up. Kami pun kembali ke tempat finish.</p>
<div id="attachment_1958" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/315740_10150316815843877_695793876_8295475_1171817216_n.jpg" target="_blank"><img class=" wp-image-1958 " title="315740_10150316815843877_695793876_8295475_1171817216_n" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/315740_10150316815843877_695793876_8295475_1171817216_n.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber foto: Dede R. Hidayat Facebook</p></div>
<p>Tiba di tempat, kami putuskan untuk tidak istirahat dulu, tapi masuk ke single trek lagi. Meskipun tadi sudah dilewati, untuk kali kedua ini saya tetap tahu diri dengan kondisi sepeda, diawal-awal jalur tetap ndak berani saya tunggangi karena turunannya tidak cukup nyaman buat sepeda hardtrail saya. Alih-alih bisa terjungkal dan lanjut ke lembah jurang, hehe.</p>
<p>Namun lepas dari bagian ini saya langsung tancap gas&#8230;eee&#8230;maksudnya kayuh pedal, tentunya dengan tetap berhati-hati dengan kondisi jalur yang sempit dan banyak akar pepohonan, serta tak lupa&#8230; always angkat pantat dari sadel. Nah, saking pede-nya dengan jalur&#8230; kali ini kami finish pada beberapa titik yang berbeda, karena memang kondisinya ada beberapa cabng jalan. Tapi bermuaranya tetap ke jalan utama. Alhasil, meskipun tercerai berai kami semua tetap sampai di jalan utama dengan selamat. Setelah semua tim nongol dari semak-semak hutan pinus nan rindang, kami pun loading sepeda ke pick up dan kembali ke titik finish untuk beristirahat, sholat zhuhur dan makan-makanan ringan. Sekitar Pkl. 14.15, kami undur diri dari lokasi finish trek downhill Cikole, tak lupa berpamitan dengan beberapa tim downhill bandung yang masih berada di sana.</p>
<p>Tujuan kami selanjutnya adalah arah pulang, namun melalui trek hutan Jayagiri. So.. kami loading sepeda kembali ke pick dan menuju starting point dari Trek Hutan Pinus Jayagiri yang ternyata berseberangan dengan tempat start Trek Downhill Cikole. Karena kondisi, maka Om Andi yang tadi sempat terjatuh terpaksa tidak ikut rombongan, dia ikut mobil pick up langsung balik ke Mesjid Besar.</p>
<p>Kami start dari mulut masuk trek hutan pinus Jayagiri sekitar Pkl. 14.30. Treknya sangat asyik dan teduh, karena melintasi rimbunnya pepohonan hutan pinus. Namun harus hati-hati, karena jalurnya juga sering dilalui oleh tim motor cross, maka kondisi jalurnya jadi menyerupai alur parit, sehingga jika kita tidak hati-hati bisa terpeleset. Sembilan puluh persen trek nya adalah turunan, dan mungkin separohnya adalah turunan tajam, dan sekitar seperempat persennya adalah turunan super curam. Artinya super curam disini, jangankan untuk digowes, menyusuri turunannya dengan menenteng sepeda saja sudah menjadi perjuangan yang berat. Untungnya Om Dennis, setia menemani dan memberikan arahan-arahan di setiap titik krusial yang akan kami lalui.</p>
<div id="attachment_1956" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/311870_10150316815883877_695793876_8295476_1941984746_n.jpg" target="_blank"><img class=" wp-image-1956 " title="311870_10150316815883877_695793876_8295476_1941984746_n" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/311870_10150316815883877_695793876_8295476_1941984746_n.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber foto: Dede R. Hidayat Facebook</p></div>
<p>Sekitar Pukul 15.00 kami tiba di mulut luar trek hutan Jayagiri, disini kita akan disuguhi pemandangan yang asyik dengan sisi sebelah kiri adalah lembah jurang yang sangat dalam. Sehingga harus hati-hati. Kami sempatkan disini utnuk foto bareng, tentunya minus Om Andi (yang tidak ikut) dan Om Dennis (yang menjadi juru keker-nya, hehehe). Setelah itu kami pun meluncur menyusuri jalan aspal yang asyik (karena berubah trek menurun). Nikmat rasanya, setelah meluncur di trek yang mengguncang adrenalin, sekarang kami menyusuri aspal tanpa harus banyak mengayuh pedal. Sekitar Pkl. 15.15 kami pun finish di Mesjid Besar Lembang kembali.</p>
<p>Ritual selanjutnya adalah seperti biasa&#8230; kita kumpul dan mengucap syukur bahwa meskipun ada beberapa teman yang sempat terjatuh, namun seluruhnya bisa kembali ke tempat finish dengan selamat. Ritual dilanjutkan dengan bersih-bersih&#8230; nyemil-nyemil&#8230; dan makan-makan&#8230; Lalu, bersiap pulang ke Jakarta, sambil tak lupa membeli oleh-oleh buat orang rumah, supaya pasport untuk gowes AKAP selanjutnya bisa disetujui&#8230;.:-)</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-gowes/'>Edisi Gowes</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/trek-downhill-cikole/'>Trek Downhill Cikole</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/trek-hutan-pinus-jayagiri/'>Trek Hutan Pinus Jayagiri</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1852/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1852/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1852&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/10/02/menjajal-trek-downhill-cikole-dan-hutan-pinus-jayagiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/306347_10150316815933877_695793876_8295478_171460048_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">306347_10150316815933877_695793876_8295478_171460048_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/297329_10150316815688877_695793876_8295471_466411451_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">297329_10150316815688877_695793876_8295471_466411451_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/315740_10150316815843877_695793876_8295475_1171817216_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">315740_10150316815843877_695793876_8295475_1171817216_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/10/311870_10150316815883877_695793876_8295476_1941984746_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">311870_10150316815883877_695793876_8295476_1941984746_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Testimonial Buat Timnas Indonesia dan Uncle Wim Bijsbergen</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/09/07/testimonial-buat-timnas-indonesia-dan-uncle-wim-bijsbergen/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/09/07/testimonial-buat-timnas-indonesia-dan-uncle-wim-bijsbergen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 11:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Pamungkas]]></category>
		<category><![CDATA[Christian Gonzales]]></category>
		<category><![CDATA[Firman Utina]]></category>
		<category><![CDATA[Kualifikasi Piala Dunia 2014]]></category>
		<category><![CDATA[Sepak Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wim Bijsbergen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1844</guid>
		<description><![CDATA[Geliat sepak bola di tanah air kembali muncul. Dimulai dari masuknya tim kebanggaan kita, Tim Nasional (Timnas) Indonesia, dalam babak Prakualifikasi Piala Dunia 2014. Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi,tapi yang pasti masyarakat terlanjur bangkit semangatnya untuk menyaksikan Tim Sepak bola Indonesia berlaga di kanca pertandingan International. Laga Piala AFC tahun lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1844&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1849" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/09/indonesia-bahrain.jpg"><img class="size-medium wp-image-1849 " title="indonesia-bahrain" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/09/indonesia-bahrain.jpg?w=460&#038;h=310" alt="" width="460" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Sumber Foto: catatanbola.com</p></div>
<p>Geliat sepak bola di tanah air kembali muncul. Dimulai dari masuknya tim kebanggaan kita, Tim Nasional (Timnas) Indonesia, dalam babak Prakualifikasi Piala Dunia 2014. Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi,tapi yang pasti masyarakat terlanjur bangkit semangatnya untuk menyaksikan Tim Sepak bola Indonesia berlaga di kanca pertandingan International. Laga Piala AFC tahun lalu berperan besar dalam menumbuhkembangkan rasa cinta masyarakat kepada Timnas kita ini.<span id="more-1844"></span></p>
<p>Mencermati beberapa pertandingan Timnas kita dalam pertandingan persahabatan dan babak kualifikasi melawan Iran dan Bahrain (6 September 2011), sempat membuat kita, terutama saya sendiri, yang menyaksikan menjadi deg deg an alias tegang. Kalau saya pribadi boleh menilai dari dua laga awal tersebut, kualitas permainan Timnas kita masih relative di bawah Iran dan Bahrain. Itu penilaian pribadi saya lhoo…. Jangan disamakan dengan penilaian para pakar dan pengamat sepakbola kawakan. Nah… mungkin saya ada komentar, kritikan atau pesan terbuka kepada Tim kita, khususnya dari pengamatan laga terakhir melawan Bahrain.</p>
<p>Bung Markus Harison….. Good job bro… ente sudah menunjukkan usaha yang terbaik. Hanya saja perlu diperhatikan titik lemah ente terhadap bola-bola yang memantul dan bola atas, kalo ente mau keluar sarang saran ane sambil main feeling, jangan sampai posisi keluarnya ente terlalu maju dari gawang. Ini yang ane amatin, beberapa kali posisi maju ente terlalu ke depan meninggalkan gawang, ini sangat membahayakan Bung. Tapi yang ngerasain dan yang bisa ngukur situasi saat itu adalah ente sendiri bro… karena itu kenapa ane tadi bilang gunain feeling ente dengan baik. Terus kalo kemasukan gol duluan jangan grogi and esmosi bro, jangan pula terlalu ngebayangin wajah sedih Mbak Kiki di kursi penonton ngeliat gawang ente dijebol. Tarik nafas dalam dan…. kembali fokus… kus..kus… (seperti ujung nama ente…hehehe)…. Tapi biar kata banyak yang meragukan kemampuan ente, menurut ane… manakala ente dinobatkan sebagai penjaga gawang utama, hilangkan bayangan atau persepsi orang tersebut, laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan konsentrasikan pikiran serta tenaga hanya pada permainan dan gempuran lawan di lapangan, bukan pada anggapan negative orang atau pada wajah Mbak Kiki…. (yaaa… sekali-sekali boleh laah…. tapi cepat-cepat konsentrasi lagi ya bro…hehehe).</p>
<p>Boaz Solossa…. Welcome bro…. semoga pulang sebentar ke kampung halaman kemarin akan menambah semangat dan motivasinya ya bro. Terobosan-terobosan yang ente lakukan cukup yahut, begitu juga umpan-umpan ente… mantab dan tepat ke kawan, tetap pertahanin bro dan ingat … jaga nafsu untuk nge-gol-in sendiri. Ente ada di lini depan, kerjasama tim harus diutamakan. Biar kata misalnya gol dicetak oleh teman yang lain, tapi kalo itu bola hasil umpan tari ente, seluruh masyarakat Indonesia pasti akan mengelu-elukan ente juga kok bro. So, pertahankan semangat menerobos, kerjasama, dan tentunya mencetak gol….Sssst…. dengar punya dengar nama ente cukup diperhitungkan di bursa persepakbolaan dunia, naaah…. Jangan issue atau gossip (syukur-syukur benar adanya) sebagai motivasi yang tinggi untuk menunjukkan diri dan mengharumkan nama bangsa… Ane yakin ente bisa…”</p>
<p>Christian Gonzales….. Ente emang yahuuut kang…. Biar kate akang dipercayain sebagai ujung tombak di lini depan, tapi kerjasama akang dengan kawan juga asyik… saluut…salutt… Waah… pasti sakit ya kang diganjal, diapit, disikut, dan dijaga ketat oleh pemain lawan, tapi saran ane sih jangan terlalu terpancing dengan “godaan-godaan” lawan tersebut kang… Akang Gonzales harus tetap fokus untuk mencetak gol buat Indonesia. Kembalilah kepada konsentrasi seperti yang akang Gonzales tunjukkan waktu bertarung di laga Piala AFC dan beberapa laga persahabatan. Buat ane di sana akang Gonzales terkesan sebagai pemain yang “sangar tapi bersih”…. bersih dari kartu maksudnya… (disamping juga bersih penampakkannya…hahaha).</p>
<p>Mas Bambang BP…. Ane kagak tau mau ngomong apa tentang ente, pokoknya tob abis. Ente sejauh ini berhasil menjalankan tugas sebagai Kapten (sebagus ketika tugas itu diemban Firman Utina) yang diamanatkan pelatih. Bahkan ane bilang ente dan Firman sama-sama oke sebagai Kapten, kontrol bola dan umpan-umpan bola ente ke teman oke, sundulan kepala ente yahut punya, tendangan bebas ente juga mantab (kadang-kadang masih melenceng dikit… hihihi), kontrol esmosi ente juga bagus dan ane acungin jempol, lalu kalo jatuh ente juga tidak berlama-lama (kecuali kalo emang sakit banget ya mas…hehehe), kerjasama ente di semua lini khususnya lini depan juga oke… terus begitu mas…. Dan pastinya terus berusaha mencetak gol…. Ssst…mumpung dipercaya bermain dari awal dan mengomandoi tim, tunjukkan… tunjukkan kepiawaian mu Kang Mas Bambang….</p>
<p>Bang Firman Utina…. Dirimu adalah salah satu pemain favorit ane… makanya manakala ente diganti ane malah jadi was was dan bertanya-tanya sendiri…kira-kira siapa nih yang bisa berperan membagi bola sebaik yang ente lakuin… hahaha. Ketika ditunjuk kapten tim pun ente oke punya. Kalo ane sih ngeliat ente seperti kiasan “pendek-pendek cabe rawit, kalo digigit pedasnya langsung nendaaaang….” Terus lah begitu bang… jaga esmosi, kendalikan permainan dengan memberikan umpan yang mantab, dan bantu ngademin esmosi yang lain ya bang kalo lagi pada grogi akibat kemasukan gol…. Insya Allah abang akan jadi pemain besar… (ee… sekarang kan sudah ya….).</p>
<p>Muhammad Ridwan …. Dirimu tak kalah mantab kang… terobosan ente dari lini sayap sering tidak terduga-duga, terutama oleh lawan tentunya. Ente beberapa kali juga terbukti menjadi sumber bola yang akurat dan berakhir dengan gol. O iya kang.. berhubung posisi akang Ridwan sebagai ujung tombak di lini sayap, semoga tetap ingat dengan kerjasama tim ya kang. Keputusan yang tepat akan membuahkan hasil yang akurat, kalo memang mengumpan bola ke teman yang di depan gawang adalah lebih baik kenapa tidak? Percaya deh kang… jika gol, orang akan ingat dua-duanya, baik yang meng-gol-kan maupun yang mengumpan bola… Pertahankan pola permainan akang. Tapi masukan dikit nih (dikit aja..)… jaga esmosi ya kang, terus…. mbok ya kalo lagi main ekspresinya jangan terlalu tegang gitu atuh kang… Bersainglah dengan ekspresi para pemain bule itu kang…. sangar tapi wajahnya masih kelihatan santai….:-)</p>
<p>Ahmad Bustomi…. waah.. ente disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di lini tengah bergandengan dengan Bang Firman…selamat yak…. terima dan sikapi anggapan itu dengan professional bro…. bikin anggapan itu untuk memotivasi diri untuk senantiasa lebih baik dan baik lagi. Permainan ente emang bagus bro, pesan ane adalah jangan terlalu lama memainkan (mengocek) atau mengutak atik bola di kaki sendiri… ini sangat ane pesenkan supaya ente perhatikan, mungkin agak dikurangi mengocek bola ke arah kanan bro, beberapa kali ane perhatiin ini menjadi kelemahan ente. Ketika ente mengocek bola (dengan kaki kanan) ke arah kanan (samping kanan) tanpa ente sadari tiba-tiba pemain lawan memotong atau tepatnya merebut itu bola dan melenggang lepas menuju kotak finalti… kalo menurut pengamatan ane sih ini terlalu berbahaya karena terbukti beberapa kali bola ente dicolong dengan cara begini. Sekali lagi maaf ya bro… bukan untuk melemahkan, ini hanya sepengamatan ane…. yang penting tetap semangat dan konsentrasi dan lekas pulih dari cideranya ya bro…</p>
<p>Haryono… syukurlah… akhirnya akang Haryono cepat pulih dari cidera waktu nge-golin di gawang Palestina pada laga persahatan tempo hari… hmmm… kalo ngeliat rambut panjang akang.. ane jadi ingat pemain bola Belanda jaman baleha… kalo gak salah Ruud Gulid (kira-kira begitulah nulisnya), cuma bedanya kalo dia rambutnya gimbal sementara akang lurus.. hahaha (gak sama blass ya kang…). Anyway… permainan akang menurut ane cukup taktis… hanya saja esmosi kudu dikendalikan ya Kang. Beberapa kali laga ane perhatiin akang malah terkesan main kasar dan berbuah kartu kuning. Sayang banget kan kang… So, tetap bermain dengan rapi kang, mengumpan bola ke teman dan juga membantu lini depan sebagaimana yang sudah sering akang lakukan, tentunya bisa mencetak gol lagi….</p>
<p>Bang Ferdinand Alfred Sinaga…..Horas bang!&#8230;. abang kita yang satu ini ane liat punya potensi besar sebagai pasukan penyerang. Postur tubuh oke, pergerakan cepat, dan cara memainkan bola juga asyik. Umpan terobosan dan juga serangan balik kadang merepotkan lawan. Yang penting tetap perhatikan dan pertahankan kerjasama dengan tim di lini depan ya Bang. Dan satu lagi, pertahankan juga kontrol esmosi abang… sejauh pengamatan ane abang salah satu yang bisa memainkan esmosi dengan baik.</p>
<p>Muhammad Nasuha, Hamkah Hamzah, Benny Wahyudi, Muhammad Roby, ente semua adalah bentengnya tim kita… perkuat benteng tim kita dengan penuh pengorbanan… jangan ragu-ragu menempel lawan, jangan gentar dengan badan lawan yang gede kekar dan postur tubuh yang tinggi, jangan terlalu lama bermain-main dengan bola… apalagi ketika posisi kita ketinggalan gol dan sisa waktu pertandingan sudah semakin menipis, jangan menunggu bola dan lawan masuk daerah finalti, yang terbaik adalah bagaimana caranya justru menggiring bola dan lawan menjauh dari kotak finalti. Hati-hati dengan perangkat off side, hati-hati juga dengan umpan lambung dan terobosan lawan dari sayap kanan dan kiri, boleh maju ke depan, tapi selekas kilat mundur… Pokoknya bagaimana caranya jangan sampai menunggu bola dan lawan masuk wilayah finalti, disamping membuat jantung ane yang melihatnya mau copot, juga berbahaya bro… Beberapa kali gol terjadi justru karena beberapa kondisi diatas…  tetap semangat bos… pertahankan gawang kita bila perlu sampai titik darah penghabisan (upsss…. Jangan ah bro… kalau sampai titik darah penghabisan nanti dunia jadi heboh….hahaha).</p>
<p>Mas Supardi…. Biar kata seringkali duduk di bangku pemain cadangan, namun ketika diturunkan ente cukup cepat menyesuaikan diri. Pertahankan umpan-umpan langsung ke teman mas, jangan terlalu lama memainkan bola di kaki sendiri, dan jaga esmosi. Irfan Bachdim, Tony Sucipto, Wahyu Wijiastanto, dan I Made Wayan… sabar ya bro…</p>
<p>Uncle Wim Rijsbergen&#8230;.yang kudu diperhatiin adalah barisan pertahanan kita. Sebagai gambaran nyata dari saya, jujur, menyaksikan permainan Timnas mulai dari pertandingan melawan Turkmenistan, Palestina, Yordania, Iran dan terakhir Bahrain, begitu lawan memasuki wilayah pertahanan (finalti) kita pasti deh jantung saya deg deg gan. Kenapa? Yang pasti beberapa kali saya perhatikan, lawan begitu cepat melenggang bebas sampai ke depan gawang…bahkan akhirnya gol,  artinya tidak ada pemain kita yang menempel ketat atau menyambut pergerakan lawan tersebut. Pemain kita terlalu fokus ke belakang dan baru menghadang lawan pada wilayah finalti. Coba Uncle Wim bandingkan dengan pertahanan di kubu lawan, begitu Gonzales atau Bambang atau Boaz atau siapapun yang masuk ke wilayah pertahanan (finalti) mereka langsung “disikat” “disambut” dan “dihadang”dengan sekuat tenaga demi menyelamatkan areal gawang supaya terbebas dari keberadaan tim kita. Sementara tim kita ketika menghadapi situasi yang sama sepengamatan saya lebih banyak “menunggu” dan “menanti” bola dan lawan sampai sebegitu dekat dengan areal gawang….dan ketika sudah begitu jantung saya semakin deg deg an…  hehehe…</p>
<p>Terus terhadap lini pertahanan kita …. seringkali pemain kita terlalu lama (asyik) mempermainkan bola dan begitu ketemu lawan sekaliber Iran dan Bahrain yang pergerakannya sangat cepat malah kecolongan dan membahayakan gawang kita sendiri.</p>
<p>Untuk lini tengah, beberapa peran seperti Abang Firman dan juga Mas Bambang (sesekali) sangat bagus. Sangat bagusnya dimana? Bola tidak terlalu lama dimainkan di kaki sendiri, umpan-umpan yang diberikan akurat dan tindakan mengawal lawan juga bersih. Hal yang perlu diperbaiki di lini tengah ini adalah kebalikannya, memainkan bola terlalu lama berputar-putar di kaki sendiri sangat membahayakan dan maaf… membosankan bagi kami yang menonton… membosankan dalam artian bahwa tindakan itu beberapa kali justeru membahayakan gawang sendiri, manakala secara tiba-tiba lawan merebut bola dan melenggang dengan cepat ke wilayah gawang tanpa pengawalan ketat dari tim kita.</p>
<p>Adapun untuk barisan depan, yang perlu Uncle Wim perhatikan adalah kerjasama dan ego masing-masing personal. Tanamkan kepada tim (terutama di lini depan) untuk tetap mengedepankan kerjasama. Berupaya untuk mencetak gol sendiri adalah sah-sah saja sepanjang peluangnya memang tepat, namun ketika peluang itu ternyata lebih baik jika dilakukan oleh teman yang berdiri bebas untuk mencetak gol akan lebih elok lagi…. bukan begitu Uncle Wim? Pokoknya buat Uncle Wim tetap semangat, genjot terus semangat Tim Nasional Indonesia dan yang terpenting adalah belajar lah dari kekalahan dan kesalahan yang sudah terjadi.</p>
<p>Untuk Para Suporter… asli bro, ane juga sebel, kesal dan deg deg an menyaksikan beberapa pertandingan tim nasional kita, apalagi yang terakhir melawan Bahrain. Di kandang sendiri kok bisa-bisanya kita dikalahkan. Namun sekali lagi bro… bola itu bulat, peluang dalam pertandingan ada dua, menang atau kalah. Biar kata sama-sama kesal entah itu karena keunggulan/kemenangan tim lawan atau juga karena geregatan melihat permainan tim nasional kita sendiri, sportivitas harus tetap kita jaga bro. Kejadian penghentian sementara pertandingan melawan Bahrain karena petasan sadar atau tidak berdampak buruk pada persepsi luar terhadap persepakbolaan Indonesia.</p>
<p>Mungkin kemarin Ketua PSSI dan Tim Penyelenggara akhirnya bisa merayu Uncle Bule perwakilan AFC (yang diwujudkan dengan pelukan antara Ketua PSSI dengan Uncle Bule tersebut). Namun kejadian tersebut pastinya disaksikan oleh dunia… dan… ane gak bisa berkomentar lagi bro… begitu melihat kursi rombongan Presiden kita uda kosong, kebayang deh betapa marahnya Presiden menyaksikan di depan matanya sendiri kejadian yang memalukan tersebut. Beberapa pihak memandang negatif sikap Presiden ini… ketika kalah Presiden menyalahkan supporter, coba kalo menang… begitu kira-kira anggapan negatif kepada Presiden kita. Tapi ane lebih setuju dengan pendapat Pakar Sosiologi kita, Bapak Imam Prasodjo, sepertinya gak ada Presiden yang gak malu dan marah dengan kejadian seperti itu yang terjadi tepat dihadapan mata beliau.</p>
<p>Untuk Bapak Presiden dan rombongan…. Hmmm… maafin ulah Suporter kita ya Pak. Ternyata memang susah untuk merubah budaya sportivitas sebagian pihak ya Pak. Hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kejadian seperti itu supaya tidak terulang lagi adalah memperketat aturan main kepada barang bawaan siapapun yang akan masuk ke GBK. Tapi bilang juga dengan tim keamanan kita, jangan terlalu over protective juga ya pak…. Nanti nontonnya malah gak asyik… kasian dengan mereka yang benar-benar berniat untuk menonton secara tertib dan berani bayar mahal… hehehe… Eeee… ini cuma pendapat dan masukan saya lho Pak… saya jangan dipanggil ke Istana ya Pak…</p>
<p>Yaa… semoga persepakbolaan kita semakin membaik dan semoga Timnas kita bisa membawa harum nama bangsa. Harum disini tidak hanya diwujudkan dengan perolehan kemenangan, tapi bisa juga ditunjukkan dari sikap sportivitas kita yang tinggi baik sebagai pemain maupun sebagai pendukung (supporter). Sekali lagi ini hanya sekedar komentar dan pesan selintas pintas dari saya sebagai warga negara biasa yang turut mendoakan kemajuan persepakbolaan Indonesia. Bila ada yang tersinggung mohon dimaafkan dan bisa ada yang tersanjung mohon kiranya dapat disikapi dengan arif dan professional.</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-umum/'>Edisi Umum</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/bambang-pamungkas/'>Bambang Pamungkas</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/christian-gonzales/'>Christian Gonzales</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/firman-utina/'>Firman Utina</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/kualifikasi-piala-dunia-2014/'>Kualifikasi Piala Dunia 2014</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/sepak-bola/'>Sepak Bola</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/timnas-indonesia/'>Timnas Indonesia</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/wim-bijsbergen/'>Wim Bijsbergen</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1844/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1844&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/09/07/testimonial-buat-timnas-indonesia-dan-uncle-wim-bijsbergen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/09/indonesia-bahrain.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia-bahrain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bugis Street: the Largest Street Shopping Location in Singapore</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/21/bugis-street-the-largest-street-shopping-location-in-singapore/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/21/bugis-street-the-largest-street-shopping-location-in-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 08:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Cerita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Bugis Street]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1778</guid>
		<description><![CDATA[Selain kawasan Orchard, tempat lain yang menjadi tujuan wisata belanja para pelancong di Singapura adalah Bugis Street. Kawasan ini dikemas sedemikian baik dan mempunyai citra sebagai salah satu pusat belanja murah dan lengkap di Singapura. Bugis Street, sebagai pusat perbelanjaan, terletak di antara Rocchor, Victoria dan Queen Street. Sebagaimana informasi yang dilansir dalam situs resminya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1778&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-1.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1785" title="Bugis Street - 1" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-1.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Selain kawasan Orchard, tempat lain yang menjadi tujuan wisata belanja para pelancong di Singapura adalah Bugis Street. Kawasan ini dikemas sedemikian baik dan mempunyai citra sebagai salah satu pusat belanja murah dan lengkap di Singapura.<span id="more-1778"></span></p>
<p>Bugis Street, sebagai pusat perbelanjaan, terletak di antara Rocchor, Victoria dan Queen Street. Sebagaimana informasi yang dilansir dalam situs resminya (www.bugis-street.com) dulunya, sekitar tahun 1950-an, kawasan ini adalah merupakan pasar malam yang menawarkan pilihan berbagai jenis pakaian dan jajanan murah.</p>
<p>Sekitar tahun 1980, bersamaan dengan pengembangan jalur Mass Rapid Transit (MRT), kawasan Bugis Street dibongkar. Kios-kios pakaian dan jajanan direlokasi ke tempat lain. Hal ini tentunya menghilangkan potensi wisata yang sudah melekat dan menarik minat wisatawan yang melancong ke Singapura. Atas pertimbangan itulah maka sekitar tahun 1988, pemerintah Singapura (melalui Singapore Toursim Board) kembali membangun kawasan ini dan mengembalikan citranya sebagai pusat belanja murah dan lengkap.</p>
<p><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-6.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Bugis Street - 6" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-6.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Untuk mencapai kawasan ini menurut pengalaman saya relatif mudah. Pilihan transportasi murah yang bisa digunakan adalah bisa naik MRT dan Bus, dan kalau yang agak sedikit mahal tentunya menumpang taksi. Hal ini tentunya tergantung dimana dan dari mana kita berada. Yang saya maksud dimana dan darimana kita berada ini lebih mengacu kepada lokasi tempat menginap atau posisi terakhir ketika hendak memutuskan ke sana.</p>
<p>Ketika memutuskan ke Bugis Street posisi kami (saya dan istri) berada atau baru keluar dari Singapore Botanic Garden (SGB). Dari depan SGB kami memutuskan untuk naik Bus. Adapun halte bus terdekat adalah Halte Bus Napier Road yang ada tepat di depan kami. Kami membaca rute bus yang melewati Bugis Street. Ternyata untuk  menuju  lokasi Bugis Street kami harus naik Bus No. 7 dan nantinya turun  di  Halte Victoria Street (Bugis Junction). Sepanjang perjalanan kami  tetap  awas memperhatikan sekitar. Ternyata Bus yang kami naiki melewati   beberapa lokasi tujuan pelancong, mulai dari Orchard Road, Singapura  Art  Museum dan tentunya Bugis Street itu sendiri.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-3.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1793" title="Bugis Street - 3" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-3.jpg?w=460&#038;h=640" alt="" width="460" height="640" /></a></p>
<p>Sekedar informasi tambahan, seperti yang sudah saya sampaikan bahwa untuk mencapai lokasi Bugis Street bisa ditempuh juga dengan MRT. Kita tinggal menuju Stasiun MRT terdekat dari lokasi kita berada, kemudian baca rute MRT yang akan menuju Kawasan Bugis. Jika kita menumpang MRT, maka tujuan akhir kita nantinya adalah Stasiun MRT Bugis. Begitu keluar dari kawasan Stasiun, kita tinggal berjalan ke arah kanan dari stasiun. Lokasi pusat perbelanjaan Bugis Street berjarak sekitar 50 meter dari Stasiun MRT Bugis ini.</p>
<p>Menjelang tengah hari (sekitar Pukul 12.15) kami tiba di Halte Victoria Street. Begitu turun dari Bus, kita tinggal menolehkan pandangan mata ke kiri. Di depan kita terpampang pusat perbelanjaan dengan kanopi besar yang bertuliskan &#8220;Bugis Street: the Largest Street Shopping Location in Singapore&#8221;.  Wow!! sebuah informasi dan sekaligus wujud pencitraan yang diciptakan dan ditampilkan sangat bagus.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-4.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1795" title="Bugis Street - 4" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-4.jpg?w=460&#038;h=640" alt="" width="460" height="640" /></a></p>
<p>Suasananya cukup ramai dan kalau disamakan dengan lokasi di Jakarta persis seperti suasana Mangga Dua. Karena lapar, sebelum masuk kami putuskan untuk mampir di restoran   Burger King tepat di sisi kiri Bugis Street. Kami memesan dua paket   burger seharga Sgd 10.20. Selesai makan kami mulai memasuki lokasi perbelanjaan.</p>
<p>Kesan pertama saya terhadap Bugis Street ini ya itu tadi, layaknya kawasan Mangga dua, kawasan Tanah Abang, atau Melawai Blok M. Penasaran, kami pun melangkahkan kaki memasuki areal dalam. Pilihan barang yang ditawarkan disini diantaranya berupa jam tangan, souvenir, berbagai jenis t-shirt yang bertuliskan khas Singapura, sepatu, kaos, dan busana perempuan. Sepanjang pengamatan saya, kawasan ini sangat memanjakan kaum hawa, karena sebagian besar barang yang dijual diperuntukkan untuk perempuan. O iya, jangan heran dan kaget juga jika di kawasan ini kita dapat menjumpai beberapa toko yang menjual pernak pernik alat keperluan urusan &#8220;hubungan orang dewasa&#8221;.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-5.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1789" title="Bugis Street - 5" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-5.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Setelah menjelajah sedemikian jauh, kami berkesimpulan bahwa beberapa barang yang ditawarkan harganya memang terbilang murah. Namun untuk beberapa jenis barang lainnya harga ditawarkan jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia relatif hampir sama. Hal ini tentunya dibandingkan dengan kawasan yang serupa, seperti di Mangga Dua, Tanah Abang atau Pasar Melawai Blok M.</p>
<p>Untuk baju (rata-rata yang dijual disana baju perempuan) paling   murah adalah Sgd 10 (berarti sekitar Rp 70 ribu). Untuk   t-shirt yang berlogo khas Singapura harganya cukup bervariasi, mulai dari  3  pc Sgd 10 sampai dengan 1 pc Sgd 10. Adapun untuk pernak pernik perlengkapan perempuan (seperti giwang, dll) di jual dengan harga rata-rata Sgd 10 per 3 atau 4 pcs.</p>
<p>Sekitar satu jam setengah berkeliling, akhirnya kami memutuskan mengakhiri kunjungan di kawasan pusat perbelanjaan Bugis Street. Di sini kami membeli beberapa jam tangan untuk saya sendiri, si  kecil  di  rumah dan ponakan, dengan total belanja Sgd 14 (untuk 4 buah  jam). Lumayan bagus dan murah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-cerita-foto/'>Edisi Cerita Foto</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/bugis-street/'>Bugis Street</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore/'>Singapore</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1778/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1778/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1778&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/21/bugis-street-the-largest-street-shopping-location-in-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bugis Street - 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bugis Street - 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-3.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">Bugis Street - 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-4.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">Bugis Street - 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/bugis-street-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bugis Street - 5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orchard Road Singapore</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/14/orchard-road-singapore/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/14/orchard-road-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 11:25:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Cerita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Ion Orchard]]></category>
		<category><![CDATA[Lucky Plaza]]></category>
		<category><![CDATA[Orchard]]></category>
		<category><![CDATA[Orchard Road]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[The Hive Hostel Singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1738</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu lokasi yang menjadi tujuan utama para pelancong yang berkunjung ke Singapura adalah kawasan Orchard. Bagi wisatawan, kawasan Orchard lebih terkenal sebagai tujuan wisata belanja, khususnya Orchard Road. Di sepanjang jalan ini berjejer bangunan mall atau pusat perbelanjaan mulai dari yang super megah sampai dengan yang super kecil. Untuk yang terakhir ini adalah istilah saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1738&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/orchad-road-1.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1769" title="Orchad Road - 1" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/orchad-road-1.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Salah satu lokasi yang menjadi tujuan utama para pelancong yang berkunjung ke Singapura adalah kawasan Orchard. Bagi wisatawan, kawasan Orchard lebih terkenal sebagai tujuan wisata belanja, khususnya Orchard Road. Di sepanjang jalan ini berjejer bangunan mall atau pusat perbelanjaan mulai dari yang super megah sampai dengan yang super kecil. Untuk yang terakhir ini adalah istilah saya sendiri supaya menimbulkan kesan kontras&#8230;hehe. Sama seperti pelancong lain, kami (saya dan istri) juga mengalokasikan waktu khusus untuk berkunjung ke Orchard.<span id="more-1738"></span></p>
<p>Lalu bagaimana cara mencapai lokasi ini? Jawabannya tentu tergantung dari mana dan dimana kita berada atau menginap. Yang pasti lokasi ini dapat dicapai dengan menggunakan MRT maupun Bus. Keduanya sama-sama berlabuh di Stasiun Orchard.</p>
<p>Kami menginap di The Hive Hostel Backpacker di daerah Sengaroon Road (dekat daerah Little India). Untuk mencapai Orchard, dari daerah ini yang lebih cepat bagi kami adalah naik MRT, bisa melalui Stasiun Boon Keng, atau bisa juga melalui Stasiun Ferrar Park. Saat memutuskan ke Orchard kami sedang berada di sekitar Mustafa Center, dimana Stasiun MRT terdekat yang bisa dicapai adalah Ferrar Park. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk naik MRT dari Ferrar Park.</p>
<p><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/mrt-1.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="MRT - 1" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/mrt-1.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>﻿Dari Stasiun Ferrar Park kami menumpang MRT menuju Stasiun Dhoby Ghaut (stasiun interchange). Kami turun disini dan menyambung naik MRT yang menuju Stasiun Orchard. Tiba di Stasiun Orchard kami turun. Begitu keluar dari lorong stasiun MRT Orchard (yang terletak di bawah tanah) kami langsung disambut pintu menuju salah satu mall megah. Suasana di luar hujan gerimis. ﻿Namun karena sudah tiba di lokasi kami putuskan untuk tetap melanjutkan langkah.</p>
<p>Kesan pertama saya terhadap kawasan Orchard Road ini adalah tidak lebih dari sederetan pusat perbelanjaan dengan berbagai pilihan tempat. Hal yang membuat menarik adalah tata letak dan gaya arsitektur bangunannya yang disusun sedemikian bagus, teratur dan tidak membosankan.</p>
<p>Tawaran pilihan tempat dan jenis barang sangat bervariatif, mulai dari fashion (yang utama), souvenir, sepatu, barang elektronik, dan juga tempat makan. Di samping itu untuk urusan &#8220;hubungan orang dewasa&#8221; pun difasilitasi disini. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa toko yang menjual  barang-barang khusus untuk urusan &#8220;hubungan orang dewasa&#8221; ini.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-3.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1758" title="Orchad Road - 3" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-3.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Bagi para wisatawan, yang menjadi pemikat lokasi ini adalah pilihan berbagai jenis barang bermerek dengan tawaran harga yang (katanya) relatif &#8220;miring&#8221;. Khusus untuk fashion, jika beruntung kita akan mendapatkan suasana diskon besar-besaran untuk merek-merek tertentu. Wajar memang kemudian kawasan ini diburu oleh para wisatawan, terutama kaum hawa&#8230;</p>
<p>Namun tawaran harga miring bagi barang merek terkenal (berkelas) ini tentunya tergantung dari sudut pandang dan kocek masing-masing orang. Bagi yang sudah terbiasa dengan barang bermerek dan sudah menjadi kesukaan alias gaya atau mode mungkin istilah tersebut sangat tepat serta menguntungkan. Tapi bagi yang tidak terbiasa dengan barang bermerek dan masih berpikir isi dompet, maka istilah diatas agak sedikit kurang cocok. Yang pasti imej Orchard terhadap istilah &#8220;harga miring dari barang merek terkenal&#8221; sudah sedemikian menyebar.</p>
<p>Mumpung berada di sini pula, kami sempatkan membeli souvenir untuk oleh-oleh. Sesuai dengan petunjuk yang kami baca sebelumnya, tempat yang terkenal untuk mencari souvenir di kawasan Orchard adalah Lucky Plaza.</p>
<p>Lucky Plaza, sejauh pengamatan saya sebenarnya tidak melulu tempat penjualan souvenir sebagaimana yang saya bayangkan. Tempat ini terdiri dari ruko-ruko (layaknya di Ambasador atau PGC). Pilihan barang yang dijual juga tidak hanya souvenir. Ada juga kamera, handphone, barang elektronik, t-shirt, dan lainnya. Hanya saja urusan souvenir memang sudah melekat dengan Lucky Plaza.</p>
<p>Di sini kami mengarah pada salah satu toko yang memang khusus menjual souvenir khas atau dibuat mempunyai khas singapura. Kami putuskan membeli gantungan kunci dan tempelan magnet untuk di kulkas. Untuk dua jenis barang tersebut setiap 5 pcs kami dapatkan harga Sgd 10. O iya, jangan heran juga kalau di lokasi lain (misalnya di Little India atau di Bugis) harga yang ditawarkan pedagang untuk jenis souvenir yang serupa akan berbeda, misalnya 3 pcs Sgd 10 atau 4 pcs Sgd 10. Dan dari beberapa tempat yang sudah kami sebutkan di atas, harga yang ditawarkan toko di Lucky Plaza tersebut pada saat kami berkunjung masih yang termurah.</p>
<p>Keluar dari Lucky Plaza, kami memutuskan untuk memasuki salah satu mall yang lumayan besar. Tujuannya adalah hanya sekedar ingin tahu dan ingin membuktikan seberapa miring harga barang-barang bermerek disini. Yaa&#8230; kalo syukur-syukur dapat yang miring benaran.</p>
<p>Dari kacamata istri saya yang tentunya lebih paham tentang barang-barang bermerek, pada jenis barang merek tertentu harganya memang relatif agak miring dibandingkan dengan di Jakarta. Namun ada juga yang kondisi harganya hampir sama, bahkan ada juga yang sama. Yang membedakan adalah pilihan tipe dan model, yang di Jakarta mungkin tidak ada ternyata di sini ada.</p>
<p>Tadinya kami ingin membelikan sepatu merek tertentu buat si kecil dan istri juga mengincar tas merek tertentu pula. Namun karena menurut istri harganya tidak terlalu jauh berbeda dengan di Jakarta dan kebetulan tidak ada model yang cocok, maka kami (terutama istri saya) memutuskan untuk tidak jadi beli.</p>
<p>Puas mengitari suasana dalam mall, kami pun menikmati indahnya ornamen dan arsitektur luar bangunan sepanjang Orchad road. Biarpun masih dalam suasana gerimis, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Beberapa view foto berhasil saya dapatkan. Di depan salah satu mall kami menjumpai penjual es krim yang sering diceritakan oleh pelancong yang sudah lebih dulu berkunjung ke Singapura&#8230; yaa&#8230; penjual es krim satu dolar-an&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-5.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1760" title="Orchad Road - 5" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-5.jpg?w=460&#038;h=640" alt="" width="460" height="640" /></a></p>
<p>Penasaran, kami sepakat untuk mencicipi. Saya coba simak sebenarnya apa bedanya es krim tersebut dengan es krim-se krim lainnya. Oalaaah&#8230;ternyata dari cara mengemasnya. Sebelum disajikan, es krimnya berupa batangan berbentuk persegi panjang, dengan ketebalan sekitar enam senti. Begitu ada yang beli, batangan es krim tersebut dipotong setebal kira-kira satu setengah senti. Adapun luarannya tinggal kita pesan, bisa pakai roti tawar, bisa juga meminta dengan biskuit. Pilihan rasanya juga bervariasi, tergantung selera. Saya sendiri karena suka coklat memesan rasa coklat, sementara istri rasa vanila. Mengapa disebut es krim satu dolar-an? Ya karena harganya hanya Sgd 1.</p>
<p>Puas menikmati cemilan ringan tersebut, kami melanjutkan langkah menyusuri trotoar Orchard Road. Pandangan mata saya tertuju pada antrian di depan salah satu mall. Ternyata antrian orang yang mengekor panjang tersebut adalah antrian orang yang ingin menggunakan taksi. Hmmm&#8230;. begitu tertib dan sabarnya penduduk Singapura. Saya langsung membayangkan jika hal tersebut terjadi di Indonesia. Tapi sudahlah&#8230; sekarang saya sedang berada di negara lain dan menikmati serta belajar ala mereka.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-4.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1763" title="Orchad Road - 4" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-4.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Kami terus melangkah arah balik menuju pintu masuk stasiun MRT. Kami ingat bahwa sebelum keluar stasiun MRT tadi ada pertokoan di bawah tanah yang menyatu dengan pelataran dalam stasiun, namanya Ion Orchard. Karena searah dengan lokasi menuju MRT kami sepakat untuk memasuki areal Ion Orchard tersebut.</p>
<p>Begitu tiba di pelataran Ion Orchard, lagi-lagi saya dibuat takjub. Suasana begitu nyaman dan bersih. Kita berada di bawah tanah, tapi rasanya tidak demikian. Outlet-outlet disusun rapi dengan gaya arsitektur yang ciamik. Sungguh hasil karya pekerjaan tata kota yang direncanakan dengan matang. Pilihan jenis barang pun tidak jauh berbeda dengan barang-barang yang dijual di mall-mall sepanjang Orchard Road.</p>
<p>Hmmm&#8230; saya jadi berpikir,  wajar kalau orang betah untuk berlama-lama keliling dan belanja di kawasan Orchard. Suasana yang nyaman dengan suguhan gaya arsitektur tempat dan bangunan yang diatur sedemikian rupa tersebut sangat menunjang dan mungkin memang diciptakan supaya pengunjung betah dan tidak merasa bosan.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-7.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1764" title="Orchad Road - 7" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-7.jpg?w=460&#038;h=320" alt="" width="460" height="320" /></a></p>
<p>Mengingat kaki sudah terasa penat dan kami ada tujuan ke tempat lainnya, maka kunjungan dan perjalanan di seputar Orchard kami sudahi sampai disini. Tidak banyak yang kami beli, hanya beberapa souvenir dan sepatu istri. Tapi lumayanlah hanya untuk sekedar tahu dan menikmati langsung suasana salah satu kawasan perbelanjaan di Singapura.</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-cerita-foto/'>Edisi Cerita Foto</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/ion-orchard/'>Ion Orchard</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/lucky-plaza/'>Lucky Plaza</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/orchard/'>Orchard</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/orchard-road/'>Orchard Road</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore/'>Singapore</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/the-hive-hostel-singapore/'>The Hive Hostel Singapore</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1738/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1738&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/14/orchard-road-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/orchad-road-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Orchad Road - 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/mrt-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">MRT - 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Orchad Road - 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-5.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">Orchad Road - 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Orchad Road - 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/03/orchad-road-7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Orchad Road - 7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Hive Hostel Backpacker Singapore</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/07/the-hive-hostel-backpacker-singapore/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/07/the-hive-hostel-backpacker-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 03:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Cerita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Boon Keng]]></category>
		<category><![CDATA[Mustafa Center]]></category>
		<category><![CDATA[Serangoon Road]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[The Hive Hostel Singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1590</guid>
		<description><![CDATA[Ketika memutuskan akan melancong ke Singapura, disamping urusan passport, tiket, visa, yang tak kalah penting adalah mencari tempat menginap. Urusan tempat menginap ini menjadi penting karena Singapura terkenal dengan tarif penginapan yang tidak murah. Pilihan tempat juga sangat perlu, karena berpengaruh juga terhadap isi kocek, apakah mau ambil sekelas hotel (mulai dari yang berbintang sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1590&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-1.jpg?w=300" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1591" title="The Hive - 1" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-1.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Ketika memutuskan akan melancong ke Singapura, disamping urusan passport, tiket,  visa, yang tak kalah penting adalah mencari tempat menginap. Urusan  tempat menginap ini menjadi penting karena Singapura terkenal dengan  tarif penginapan yang tidak murah. Pilihan tempat juga sangat  perlu, karena berpengaruh juga terhadap isi kocek, apakah mau ambil  sekelas hotel (mulai dari yang berbintang sampai yang tidak berbintang)  atau sekelas hostel. Tempat mana yang dipilih, tentu tergantung masing-masing orang.<span id="more-1590"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-10.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1628" title="The Hive - 10" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-10.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Untuk urusan mencari penginapan ini saya serahkan kepada istri. Kalau saya pribadi tidak begitu masalah mau menginap di mana, asalkan bersih, fasilitas minimal yang diperlukan tersedia dan akses mudah&#8230; (itu mah sama aja milih bos.. hehehe). Hal yang pertama kami lakukan adalah searching info dari tulisan orang yang pernah melancong ke Singapura. Karena cerita dari yang sudah mengalami akan sangat membantu saat kita melihat-lihat website dari beberapa penginapan yang bisa kita buka di internet. Dari beberapa postingan kami memperoleh gambaran bahwa meskipun sekelas hostel ternyata penginapan di Singapura lumayan bersih.</p>
<p style="text-align:left;">Kemudian kami menentukan jenis dan rate yang sesuai dengan kocek. Setelah cek n ricek sana sini, istri saya akhirnya mengatakan lebih baik kita mencari penginapan sekelas hostel backpacker. Saya langsung mengaminin. Bukan hanya lantaran harganya yang relatif murah, tapi saya ingin merasakan bagaimana melancong ala backpacker sesungguhnya. Lagi pula, tujuan kami ke Singapura adalah untuk jalan-jalan, bukan untuk tidur or berdiam diri di hotel. Sehingga sudah bisa dipastikan waktu kami akan lebih banyak di jalanan. Paling penginapan hanya untuk numpang tidur dan sarapan saja. Jadi agak sayang kalo mencari penginapan dengan rate yang mahal, lumayan kan kelebihannya bisa dialokasikan untuk yang lain&#8230; hehe.</p>
<p style="text-align:left;">Setelah melakukan proses searching, cek n ricek serta perbandingan satu tempat dengan tempat yang lain, pilihan kami akhirnya jatuh pada The Hive Hostel Backpacker. Sebenarnya ini adalah pilihan yang ketiga. Pertama kali pilihan kami sebenarnya jatuh ke Ali&#8217;s Nest di daerah Little India. Namun sayang, reservasi kami lewat internet tidak ditanggapi. Pilihan kedua adalah InnCrowd Hostel. Tapi ternyata untuk tanggal yang kami pesan sudah full book (penonton kecewa&#8230;). Baru kemudian kami dapat referensi The Hive Hostel Backpacker. Istri saya segera melayangkan email reservasi ke alamat email yang tertera di website mereka, dan langsung dijawab.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-11.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1630" title="The Hive - 11" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-11.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Untuk mencapai lokasi hostel ini, bagi pelancong yang pertama kali menginjakkan kaki di Singapura seperti kami terbilang gampang. Setelah proses di bagian imigrasi dan pengambilan bagasi di Terminal 1 Changi Airport, kami menumpang Skytrain (yang memang disediakan bagi penumpang pesawat) menuju Terminal 2 Changi Airport. Keluar Skytrain, kami berjalan menuju pintu masuk Mass Rapid Transit (MRT). Dari Changi Airport kami memang sengaja memutuskan untuk menggunakan jasa MRT, tentunya dengan maksud ingin membuktikan cerita orang-orang tentang kenyamanan dan kemudahan sistem transportasi terbesar di Singapura ini.</p>
<p style="text-align:left;">Petunjuk menuju lokasi pintu masuk MRT ini sangat jelas, jadi tidak perlu takut tersasar. Setelah menempelkan EZ Link Card pada pintu masuk kami kemudian menuju platform MRT Changi Airport. Oh ya, sebagai informasi saja, jika kita memutuskan bepergian menggunakan jasa MRT atau Bus selama di Singapura lebih baik dan lebih gampang kita membeli EZ Link Card. Kartu ini bisa digunakan untuk keduanya, baik untuk naik MRT maupun Bus. Jadi kita tidak perlu repot-repot bayar, tinggal nempelin kartu pada panel yang disediakan, masuk deh.</p>
<p style="text-align:left;">EZ Link Card bisa dibeli pertama kali seharga sgd 15 dengan nilai kartu sebesar sgd 10, artinya yang sgd 5 akan hangus atau tidak bisa direfund kembali sebagai biaya kartunya. Catatan saja, jika kita punya kenalan yang pernah ke Singapura dan masih menyimpan EZ Link Card, kita bisa pinjam dari dia. Sesampai di Singapura kita tinggal top up, lumayan, kita bisa saving sgd 5 daripada kita beli&#8230;.:-)</p>
<p style="text-align:left;">Kalau nilai kartunya sudah menipis dan kita masih ingin bepergian, EZ Link Card bisa di top up di General Ticketing Machine dengan nilai value minimum sgd 10 setiap isi ulangnya. Sebaliknya, bila kita sudah tidak mau menggunakannya lagi (kasus untuk kartu yang kita beli sendiri, bukan yang pinjaman), nilai sisa kartunya bisa direfund dan uang kita kembali. Semua transaksi bisa dilakukan di General Ticketing Machine. Atau jika kita mau ber-transaksi secara cash money bisa juga langsung mendatangi counter/petugas di setiap titik point/stasiun/terminal MRT. Gampang dan cepat&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-2.jpg?w=300" target="_blank"><img title="The Hive - 2" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-2.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Kembali ke arah menuju lokasi The Hive Hostel, dari titik point/ stasiun MRT Changi Airport (di Terminal 2), kita naik MRT dan nantinya turun di stasiun MRT Tanah Merah. Dari sini kita berganti (interchange) MRT yang menuju Outram Park. Turun dari stasiun Outram Park kita interchange MRT yang menuju Punggol. Nah nanti kita turun di Stasiun MRT Boon Keng. Sekali lagi, jangan khawatir kesasar, karena petunjuk baik di areal stasiun maupun di dalam MRT nya sendiri sangat jelas. Kita tinggal mengikuti petunjuk lampu di setiap titik point/stasiun pemberhentian.</p>
<p style="text-align:left;">Oh ya, sebagai informasi lagi, jangan pernah makan, minum, merokok dan juga membawa barang yang mudah terbakar di areal stasiun dan di dalam MRT (termasuk di dalam Bus). Aturan dan pengumuman untuk hal tersebut sangat jelas, berikut denda yang akan dikenakan. Apabila ketahuan makan dan minum akan didenda sgd 500 (tambahan juga ada gambar durian-nya), untuk merokok sgd 1000, dan jika membawa barang mudah terbakar dendanya adalah sgd 5000.  Saya perhatikan orang singapura sangat tertib untuk urusan ini. Di samping itu kamera CCTV juga bertebaran dimana-mana. Mmm&#8230; pantasan saja selama  berada di areal stasiun dan dalam MRT saya tidak menemukan tempat sampah satu pun.</p>
<p style="text-align:left;">Dari stasiun MRT Boon Keng ini kami menuju pintu keluar. Ada dua petunjuk yang mengarah ke Serangoon Road (lokasi the Hive Hostel), yaitu Pintu B dan Pintu C. Karena belum tahu kami coba keluar melalui Pintu B. Ternyata yang kami temukan adalah jalan menuju sebuah pasar dan apartemen. Kami tidak begitu paham nama pasar dan apartemen tersebut, namun yang pasti nuansa seperti sebuah perkampungan china sangat terasa. Tenggok kiri kanan, tidak ada petunjuk yang mengarah ke Serangoon Road.</p>
<p style="text-align:left;">Karena haus, kami masuk ke sebuah mini market, 7-eleven namanya (belakangan kami ketahui ini adalah satu mini market yang buka 24 jam di Singapura). Kami membeli air mineral merek lokal 2 botol seharga sgd 1.80. Saat membayar, kami bertanya ke pelayan di kasir tentang lokasi The Hive Hostel. Pelayan tersebut menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.</p>
<p style="text-align:left;">Akhirnya kami putuskan untuk turun lagi ke dalam koridor stasiun MRT Boon Keng dan mencoba keluar dari Pintu C. Dan&#8230; sim sa labim&#8230; begitu kami keluar langsung kelihatan jalan besar (Serangoon Road) dan dari kejauhan tampak sebuah bangunan berwarna kuning hitam dipertigaan jalan. Kami berjalan menyusuri trotoar jalan menuju bangunan tersebut, dan tepat seperti dugaan kami tadi, bangunan itu adalah The Hive Hostel Backpacker yang kami cari.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-2.jpg?w=300" target="_blank"><br />
</a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-5.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1633" title="The Hive - 5" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-5.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Sekitar Pukul 12.15 siang, kami tiba di the Hive, berarti total perjalanan dari Changi Airport adalah sekitar satu jam. Sesampainya di meja resepsionis kami langsung mengkonfirmasi kamar yang sudah kami pesan melalui email sebelumnya. Dan syukurlah, ternyata masih tercatat dengan baik. Hanya saja mengingat waktu check-in di hostel tersebut adalah pukul tiga sore, akhirnya kami putuskan untuk menitipkan tas di resepsionis untuk kemudian melakukan jalan-jalan terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:left;">Rencananya kami akan menginap dua malam di The Hive dan kami mendapatkan Twin Room with small balcony sgd 55 (untuk malam pertama) dan Double Deck Room sgd 45 (untuk malam kedua). Ini artinya kami harus berganti kamar di hari kedua. Tapi sebagaimana yang sudah kami sampaikan saat proses reservasi, hal tersebut tidak menjadi masalah. Total untuk dua malam adalah sgd 100.</p>
<p style="text-align:left;">Di samping kamar yang kami pesan tadi, hostel ini memiliki beberapa pilihan kamar seperti Single Room sgd 30, Double Room sgd 42-60, Twin Room sgd 50 (beda dengan yang kami dapat Twin Room with small balcony), Triple Room sgd 80, dan Quad Room/2 Double Deck Room sgd 85. Bagi yang pergi sendirian dan merasa sayang dengan rate di atas jangan khawatir, hostel ini menyediakan juga Open Dorm Bed dan Female Dorm Bed (khusus untuk cewek) seharga sgd 20. Semua kamar ber-AC termasuk ruangan Open Dorm Bed.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-3.jpg?w=300" target="_blank"></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-3.jpg?w=300" target="_blank"><img title="The Hive - 3" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-3.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Namanya juga sekelas hostel, jangan membayangkan wujud ruangan kamarnya semegah ruang kamar layaknya di hotel-hotel. Kamar yang kami tempati berukuran sekitar 2,5 x 3 m. Tapi sesuai dengan keinginan saya, kamar dan suasana di hostel ini cukup bersih dan nyaman.</p>
<p style="text-align:left;">Untuk kamar mandi berada di luar kamar, artinya kita sharing dengan penghuni/tamu yang lain. Tapi sepanjang pengalaman saya disana cukup tertib, alias jauh dari kesan berebutan. Kondisi kamar mandi nya pun bersih dengan fasilitas shower dan air panas&#8230; Wow! bukan bermaksud promosi, rasanya jarang-jarang sekelas hostel yang menyediakan fasilitas air panas seperti ini.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-6.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1625" title="The Hive - 6" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-6.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><br />
Yang asyik dari The Hive adalah suasana breakfast alias sarapan di pagi hari. Jika di hotel semua serba disediakan, suasana di The Hive berbeda. Untuk sarapan kita membuat dan menyediakan sendiri (self services). Menu utama yang disediakan adalah roti beserta perlengkapan membakar serta berbagai jenis olesan selai. Bagi yang suka dengan cornflakes juga tersedia beserta susu segarnya. Peralatan untuk membuat teh dan kopi panas pun juga tersedia. Dan untuk makan di ruangan khusus.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-7.jpg?w=300" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1597" title="The Hive - 7" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-7.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Selesai sarapan kita diharuskan mencuci sendiri perabotan (piring, sendok, garpu dan gelas) yang kita pergunakan. Tempat cuci piring nya sangat bersih dan selalu kering. Untuk sampah juga disediakan dan dipisahkan antara sampah kering maupun sampah basah. Jadi kebersihan di hostel ini menurut pengamatan saya selama menginap sangat dijaga. So, suasananya sangat frendly dan kayak di rumah sendiri. Yaaa&#8230;. layaknya para backpacker&#8230;:-)</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-8.jpg?w=300" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1598" title="The Hive - 8" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-8.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">The Hive juga menyediakan fasilitas internet untuk para tamu nya. Saya hitung ada 4 (empat) komputer yang bisa digunakan. Dan asyiknya fasilitas internet ini gratis untuk para tamu yang menginap, selama 24 jam non stop. Jadi jangan khawatir kita akan ketinggalan komunikasi dengan teman-teman kita di Indonesia atau dimanapun, atau barangkali hanya sekedar searching petunjuk or ber-facebook ria. Hmmm&#8230;sepertinya yang saya tulis terakhir ini lah yang paling banyak dilakukan oleh para tamu&#8230; hehehe.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-4.jpg?w=300" target="_blank"><img title="The Hive - 4" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-4.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Di samping fasilitas internet, The Hive juga menyediakan fasilitas telepon. Fasilitas telepon ini ditempatkan pada meja tersendiri di ruang tengah hostel. Tidak kalah asyiknya, fasilitas telepon ini dapat digunakan secara gratis&#8230;alias tanpa bayar. Tapi tunggu dulu, jangan salah kaprah, fasilitas gratis ini hanya untuk sambungan lokal alias seputar Singapura saja. Kalau untuk interlokal ya tetap bayar.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1599" title="The Hive - 9" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-9.jpg?w=460&#038;h=680" alt="" width="460" height="680" /></p>
<p style="text-align:left;">Bagi yang senang berbelanja, di dekat The Hive juga terdapat mall besar dan pusat perbelanjaan. Kita tinggal mengambil arah kiri berjalan menyusuri Serangoon Road menuju perkampungan Little India, maka kita akan menemukan City Square Mall dan Mustafa Plaza. City Square Mall layaknya mall-mall biasa, lokasinya tepat di depan stasiun MRT Farrer Park. Apabila dalam suasana discount kita bisa mendapatkan pilihan harga yang murah jika dibandingkan di Indonesia. Sedangkan Mustafa Plaza lebih seperti Glodok Plaza.</p>
<p style="text-align:left;">Nah di belakang Mustafa Plaza ini (menyambung dengan gedungnya) terdapat Mustafa Center yang sudah amat terkenal dengan cerita harga murahnya, khususnya parfum. Dan benar saja, berbagai jenis parfum bisa kita dapatkan disini dengan harga yang lebih miring. Asyiknya lagi Mustafa Center ini buka 24 jam. Jadi jika kita menginap di The Hive kita bisa menjadikan Mustafa Center sebagai alternatif belanja tengah malam. Artinya pagi sampai malamnya kita bisa melancong dulu ke tempat-tempat tujuan lain di Singapura.</p>
<p style="text-align:left;">Bagi yang muslim, pilihan menginap di The Hive juga bisa menjadi alternatif yang tepat, mengingat lokasi hostel ini dekat dengan daerah Little India yang sebagian besar penduduknya adalah muslim. Sehingga untuk mencari makanan halal serta untuk sholat jumat (jika kebetulan kunjungan kita melewati hari jumat) tidak perlu khawatir, karena di daerah tersebut terdapat satu mesjid besar bernama Mesjid Angulia (tepat di depan Mustafa Plaza/Center) dan pilihan tempat makan halal.</p>
<p style="text-align:left;">So, bagi yang ingin melancong ke Singapura dan mencari pilihan tempat  yang murah, nyaman dan bersih menurut saya The Hive Hostel Backpacker  bisa dijadikan salah satu alternatif. Kami juga sempat menanyakan apakah  disana boleh membawa anak kecil, dan ternyata boleh. Karena sekedar  informasi lagi, beberapa hostel di Singapura tidak mengizinkan tamunya  membawa anak kecil. Hal ini kami tanyakan barangkali kali nanti akan  kembali ke Singapura dengan membawa si kecil kami. Artinya, bagi yang  ingin membawa keluarganya juga dimungkinkan menginap di The Hive.</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-cerita-foto/'>Edisi Cerita Foto</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/boon-keng/'>Boon Keng</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/mustafa-center/'>Mustafa Center</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/serangoon-road/'>Serangoon Road</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore/'>Singapore</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/the-hive-hostel-singapore/'>The Hive Hostel Singapore</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1590&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/07/the-hive-hostel-backpacker-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-10.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-8.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/01/the-hive-9.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">The Hive - 9</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua hari Berkunjung ke Singapura</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/01/dua-hari-berkunjung-ke-singapura/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/01/dua-hari-berkunjung-ke-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 03:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Cerita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Bugis Street]]></category>
		<category><![CDATA[Changi Airport]]></category>
		<category><![CDATA[Esplanade]]></category>
		<category><![CDATA[Marina Bay Sands]]></category>
		<category><![CDATA[Marlion Park]]></category>
		<category><![CDATA[Mustafa Center]]></category>
		<category><![CDATA[Orchad Road]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore Art Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore Botanic Garden]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore Flyer]]></category>
		<category><![CDATA[The Hive Hostel Singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1645</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya berawal dari selentingan iseng istri saya. Waktu itu sekitar Pertengahan Agustus 2010, istri saya mengatakan keinginannya untuk melancong ke Singapura. Tadinya dia ingin pergi berdua dengan rekannya yang kebetulan satu komplek dengan kami. Namun kemudian berkembang ide untuk mengajak serta suami masing-masing. Mengingat kondisi pekerjaan di kantor tidak bisa diprediksi, saya hanya mengiyakan sekenanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1645&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-7.jpg" target="_blank"><img title="Esplanade Theater - 7" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-7.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Ceritanya berawal dari selentingan iseng istri saya. Waktu itu sekitar Pertengahan Agustus 2010, istri saya mengatakan keinginannya untuk melancong ke Singapura. Tadinya dia ingin pergi berdua dengan rekannya yang kebetulan satu komplek dengan kami. Namun kemudian berkembang ide untuk mengajak serta suami masing-masing. Mengingat kondisi pekerjaan di kantor tidak bisa diprediksi, saya hanya mengiyakan sekenanya.<span id="more-1645"></span></p>
<p>Selang seminggu dari diskusi singkat tersebut, istri saya mengabarkan sudah dapat tiket Air Asia untuk keberangkatan tanggal 14 Januari 2011 dan tiket pulangnya untuk tanggal 16 Januari 2011, total harga adalah Rp 1,214,000. Mendapatkan kondisi itu mau gak mau ya harus berangkat. Untungnya pasport saya masih berlaku. Sementara istri, karena belum mempunyai pasport, mulai sibuk mengurus.</p>
<p>Disamping urusan pasport, kami pun mulai hunting tempat menginap. Mengapa urusan tempat menginap ini penting? Kami mendapatkan masukan dari yang sudah pernah melancong ke Singapura supaya mencari penginapan dari jauh-jauh hari. Penginapan di Singapura terkenal dengan harga yang tidak murah dan sering full book. Kami tidak yakin juga apakah ini berlaku untuk semua jenis penginapan atau hanya pada penginapan dengan harga terjangkau saja. Tapi yang pasti kami ikuti saran tersebut.</p>
<p>Karena niatnya adalah untuk jalan-jalan, maka kami putuskan untuk mencari penginapan yang biasa-biasa saja. Setelah searching info dan cek n ricek, kami akhirnya mendapatkan rekomendasi nama The Hive Hostel Backpacker. Meskipun sudah beberapa postingan yang kami baca termasuk dari websitenya sendiri, kami tetap mencari info tambahan lagi, khususnya tentang kebersihan dan fasilitas yang disediakan di hostel tersebut. Setelah merasa cukup, proses reservasi melalui email pun kami lakukan. Dan untungnya pada tanggal yang ditentukan kami masih mendapatkan kamar, meskipun dengan kondisi harus berpindah kamar pada hari kedua-nya. Namun itu tidak jadi soal, yang penting untuk urusan penginapan sudah selesai.</p>
<p>Singkat cerita, hari keberangkatan pun semakin dekat. Benar saja, saya ada deadline pekerjaan tepat di tanggal keberangkatan. Untungnya saya sudah mengajukan surat cuti terlebih dahulu sehingga bos setuju saja manakala saya putuskan mengejar deadline tersebut satu hari sebelumnya. Syukurlah, semuanya bisa saya selesaikan dan saya pun bisa memastikan bergabung  dengan istri berangkat ke Singapura.</p>
<p>Pesawat yang akan kami tumpangi rencana take off dari Bandara Soekarno Hatta pukul 07.20. Supaya tidak terlambat dan antisipasi proses check in dan pemeriksaan di bagian imigrasi, kami putuskan berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00. Dengan menumpang mobil tetangga yang sama-sama berangkat, kami tiba di Bandara sekitar pukul 05.30 dan langsung melakukan proses check in.</p>
<p>Setelah membayar airportax Rp 150 ribu per orang, kami lalu menuju bagian pengurusan bebas fiskal. Namun ternyata kami ketinggalan informasi (atau memang tidak tahu) bahwa per tanggal 1 Januari 2011 warga negara Indonesia yang akan bepergian ke luar negeri tidak perlu repot-repot lagi mengurus fiskal senilai Rp 2,5 juta atau tanda cap bebas fiskal (dengan menunjukkan kartu NPWP yang kita miliki), karena mulai tanggal tersebut biaya fiskal ditiadakan alias gratis.</p>
<p>Sambil menahan tawa, kami pun beralih mengikuti antrian di bagian pemeriksaan imigrasi. Sebelumnya tidak lupa mengisi kartu keberangkatan. Jduk!!!! tanda cap dari bagian imigrasi mendarat di bagian halaman visa pasport saya. Lewat sudah&#8230;</p>
<p>Namun satu lagi bagian pemeriksaan yang harus kami lewati, yaitu bilik x-ray menuju ruang boarding. Saya sudah menduga pasti tas travel kami akan kena, karena peralatan mandi dan hias istri ada di dalam nya. Untungnya istri sudah memilah-milah dan memindahkan beberapa barang yang berbentuk cairan ke tempat yang lebih kecil, sehingga waktu diperiksa dan dijelaskan masih dapat ditolerir. Yang ditinggaladalah minuman air mineral.</p>
<p>Tepat pukul 07.20 pesawat Air Asia yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Sialnya tempat duduk saya terpisah dengan istri, saya di bangku nomor 8B sementara istri di bangku nomor 24B. Namun kondisi itu kami terima saja, hal itu juga karena ketidaktahuan kami. Seharusnya waktu proses check in di Bandara kita harus bilang alias request kalau ingin duduk berdekatan. Jika kita tidak request maka oleh petugas di meja check in akan diacak. Hmmm&#8230;.</p>
<p>Pelayanan dan penjelasan awak pesawat Air Asia menurut saya sangat baik dan cukup jelas, baik dalam kondisi cuaca normal maupun saat kondisi cuaca kurang baik. Ini adalah kali pertama saya terbang dengan Air Asia. Saya baru tahu kalau kita bisa memesan makanan (layaknya di restoran&#8230;). Karena berasa perut lapar dan ingin mencicipi masakannya, saya coba memesan nasi goreng dan teh manis panas. Sayang, untuk beberapa menu sepertinya mereka membawa persediaan dalam jumlah terbatas, nasi goreng yang saya pesan ternyata habis, dan akhirnya saya ganti dengan nasi kuning menado&#8230;. hmmm&#8230;. lumayan enak&#8230; Total cost Rp 45 ribu.</p>
<p><em><strong>Hari Pertama</strong></em></p>
<p>Sekitar Pukul 09.04 waktu Jakarta (atau Pukul 10.04 waktu Singapura) akhirnya kami mendarat di Singapore Changi International Airport. Hal yang pertama kami lakukan adalah explorer ke kamar kecil alias toilet, baru kemudian foto-foto di bawah tulisan welcome in Terminal 1 (sekedar untuk kenang-kenangan.. atau tepatnya disengaja, karena saya sedang menjajagi hobby baru&#8230;. jepret menjepret&#8230;hehe). Setelah itu kami berjalan menuju bagian pemeriksaan imigrasi. Tak lupa sebelumnya mengambil Map (Peta) jalur Mass Rapid Transit (MRT). Sebagaimana yang kami dengar dan baca di internet, MRT adalah sarana transportasi andalan singapura yang nyaman dan cepat.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/changi-airport-7.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1690" title="Changi Airport - 7" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/changi-airport-7.jpg?w=460&#038;h=680" alt="" width="460" height="680" /></a></p>
<p>Lepas dari bagian imigrasi dan pengambilan bagasi kami berpisah dengan rekan yang satu perjalanan dengan kami tadi. Karena membawa anak kecil dan kebetulan hotelnya tidak searah dengan kami, rupanya mereka memutuskan untuk naik taksi. Sementara kami sudah membulatkan niat sejak dari Jakarta untuk mencicipi cerita tentang kenyaman dan kecepatan transportasi andalan singapura, MRT.</p>
<p>Dari Terminal 1 Changi Airport kami menumpang Skytrain menuju Terminal 2, tempat titik point/stasiun MRT berada. Skytrain ini khusus disediakan untuk para penumpang atau petugas bandara yang akan berpindah antar terminal. Mengenai kemana kita harus melangkah, jangan khawatir tersasar, karena petunjuk menuju lokasi pintu masuk MRT ini  sangat jelas. Setelah menempelkan EZ  Link Card pada pintu masuk kami kemudian menuju platform MRT Changi  Airport. Oh ya, sebagai informasi saja, jika kita memutuskan bepergian  menggunakan jasa MRT atau Bus selama di Singapura lebih baik dan lebih  gampang kita membeli EZ Link Card. Kartu ini bisa digunakan untuk  keduanya, baik untuk naik MRT maupun Bus. Jadi kita tidak perlu  repot-repot bayar, tinggal nempelin kartu pada panel yang disediakan,  masuk deh.</p>
<p>EZ Link Card bisa dibeli pertama kali  seharga sgd 15 dengan nilai kartu sebesar sgd 10, artinya yang sgd 5  akan hangus atau tidak bisa direfund kembali sebagai biaya kartunya.  Catatan saja, jika kita punya kenalan yang pernah ke Singapura dan masih  menyimpan EZ Link Card, kita bisa pinjam dari dia. Sesampai di  Singapura kita tinggal top up, lumayan, kita bisa saving sgd 5 daripada  kita beli….:-)</p>
<p>Kalau nilai kartunya sudah menipis dan kita  masih ingin bepergian, EZ Link Card bisa di top up di General Ticketing  Machine dengan nilai value minimum sgd 10 setiap isi ulangnya.  Sebaliknya, bila kita sudah tidak mau menggunakannya lagi (kasus untuk  kartu yang kita beli sendiri, bukan yang pinjaman), nilai sisa kartunya  bisa direfund dan uang kita kembali. Semua transaksi bisa dilakukan di  General Ticketing Machine. Atau jika kita mau ber-transaksi secara cash  money bisa juga langsung mendatangi counter/petugas di setiap titik  point/stasiun/terminal MRT. Gampang dan cepat…</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/mrt-3.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1689" title="MRT - 3" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/mrt-3.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Sekitar dua menit kemudian, MRT yang kami tunggu datang. Kami pun bergegas naik. Titik point atau stasiun MRT yang berada di Terminal 2 tersebut disebut MRT Changi Airport. Sekitar tiga menit kemudian MRT tersebut mulai bergerak dan melaju kencang. Kami ikuti aja kondisinya sambil memperhatikan berbagai petunjuk yang terdapat dalam MRT tersebut, mulai dari petunjuk titik point/stasiun pemberhentian, reserved seat, aturan dilarang makan dan minum, merokok, serta aturan tidak boleh membawa barang yang mudah terbakar, dan beberapa petunjuk lainnya.</p>
<p>Pada titik point/stasiun MRT yang berlabel Tanah Merah, MRT yang kami tumpangi berhenti. Kami saksikan semua penumpang turun, lalu berganti dengan penumpang yang naik. Meskipun pengumuman dan petunjuknya jelas namun kami belum mengerti. Akhirnya kami putuskan untuk berdiam diri dulu alias tidak turun. Selang beberapa menit kemudian MRT tersebut mulai bergerak dan melaju. Tapi yang kami kaget laju nya justru mengarah kembali ke Changi Airport. Baru kami sadar bahwa stasiun Tanah Merah tadi adalah merupakan stasiun perpindahan (interchange) bagi penumpang yang akan meneruskan tujuan ke kota singapura. Sedangkan MRT dari stasiun Changi Airport akan berbalik lagi menuju stasiun Changi setelah sampai di titik ini.</p>
<p>Sambil tetap tenang dan tertawa karena lucu dengan ketidaktahuan, kami ikuti saja laju MRT tersebut dan berhenti di stasiun berikutnya. Kami turun serta menaiki MRT yang menuju stasiun Tanah Merah. Setelah sampai di stasiun Tanah Merah dengan gagahnya kami turun untuk berganti MRT. Tujuan kami yang pertama adalah The Hive Hostel Backpacker di Serangoon Road. Kami pelajari peta (map) rute MRT guna memutuskan MRT jurusan yang akan dinaiki selanjutnya.</p>
<p>Untuk mencapai lokasi The Hive Hostel di daerah Serangoon Road, dari Stasiun Tanah Merah kami menaiki MRT yang melewati Stasiun Outram Park, yang merupakan stasiun interchange. Di Stasiun Outram Park kami turun dan kemudian menyambung naik MRT jurusan Punggol. Kami kemudian turun di Stasiun MRT Boon Keng. Sekali lagi, jangan  khawatir tersasar, karena petunjuk baik di areal stasiun maupun di dalam  MRT nya sendiri sangat jelas. Kita tinggal mengikuti petunjuk lampu di  setiap titik point/stasiun pemberhentian.</p>
<p>Dari sini (Stasiun Boon Keng) kami kemudian menuju pintu keluar, tentunya setelah menempelkan EZ Link Card pada panel keluar. Ada dua petunjuk yang mengarah ke Serangoon Road (lokasi the Hive  Hostel), yaitu Pintu B dan Pintu C. Karena belum tahu kami coba keluar  melalui Pintu B. Ternyata yang kami temukan adalah jalan menuju sebuah  pasar dan apartemen.</p>
<p>Karena haus, kami masuk ke sebuah mini market, 7-eleven namanya   (belakangan kami ketahui ini adalah satu mini market yang buka 24 jam di   Singapura). Kami membeli air mineral merek lokal 2 botol seharga sgd   1.80. Saat membayar, kami bertanya ke pelayan di kasir tentang lokasi   The Hive Hostel. Pelayan tersebut menggelengkan kepala pertanda tidak   tahu.</p>
<p>Akhirnya kami putuskan untuk turun lagi ke dalam koridor stasiun MRT  Boon Keng dan mencoba keluar dari Pintu C. Begitu  kami keluar langsung kelihatan jalan besar (Serangoon Road) dan dari  kejauhan tampak sebuah bangunan berwarna kuning hitam di pertigaan jalan.  Kami berjalan menyusuri trotoar jalan menuju bangunan tersebut, dan  tepat seperti dugaan kami tadi, bangunan itu adalah The Hive Hostel  Backpacker yang kami cari.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/serangoon-road.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1726" title="Serangoon Road" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/serangoon-road.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Sekitar Pukul 12.15 siang, kami tiba di the Hive, berarti total perjalanan dari Changi Airport adalah sekitar satu jam. Kami kemudian mengkonfirmasi kamar yang sudah dibooking sebelumnya, ternyata masih oke. Hanya saja mengingat waktu check-in di hostel tersebut adalah Pukul 15.00, akhirnya kami putuskan untuk menitipkan tas di resepsionis untuk  kemudian melakukan jalan-jalan terlebih dahulu. Sebelumnya kami bayar dulu biaya kamar untuk dua malam Sgd 100 ditambah deposit Sgd 10 (nanti dikembalikan saat check out).</p>
<p>Karena sudah waktu makan siang kami putuskan untuk mencari tempat makan siang. Kami bertanya ke resepsionis The Hive arah mana yang bisa kami tempuh untuk mendapatkan tempat makan siang. Si petugas balik tanya jenis makanan yang kami harapkan. Karena kami muslim kami jawab tentunya yang &#8220;halal food&#8221;.</p>
<p>Sesuai petunjuk dari petugas resepsionis, kami berjalan ke arah kiri menyusuri Serangoon Road. Beberapa menit berjalan kita akan menemui nuansa India. Rupanya disitulah letak perkampungan orang India yang kemudian dikenal dengan daerah Little India. Kami terus berjalan santai sambil menikmati suasana ala India. Mmm.. suasana ini mengingat saya ketika berkesempatan berkunjung ke Sri Lanka dulu.</p>
<p>Kami kemudian menemukan sebuah mall yang cukup besar, yaitu City Square Mall. Tepat di seberang jalan (di depan mall tersebut) terdapat Stasiun MRT Farrer Park dan sebelahnya lagi ada Halte Bus. Tadinya kami mau mampir, namun istri saya melihat segerombolan orang India yang berpakaian sholat. Benar saja, tidak jauh dari sana ada sebuah Mesjid (cukup besar juga) bernama Mesjid Angulia. Karena itu adalah hari Jumat, istri saya mengingatkan ada baiknya saya ikut sholat jumat dulu.</p>
<p>Saya masih ragu, apakah masih mendapatkan waktu sholatnya atau tidak mengingat jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Tapi ya sudah, daripada tidak sama sekali, mending saya ikuti saja gerombolan orang yang hendak menyeberang menuju mesjid tersebut. Istri saya menunggu di luar mesjid, sementara saya masuk. Di depan mimbar berdiri seorang (seperti kyai) sedang bicara dalam bahasa India. Syukurlah, masih tahap khotbah, pikir saya. Sekitar 15 or 20 menit kemudian orang tadi mengakhiri khotbahnya, lalu ada yang maju untuk azan. Lho Kok baru azan? Owalaah, ternyata tadi itu bukan khotbah, tapi baru pengantar sholat jumat, mungkin isinya pengumuman atau wejangan-wejangan, kurang paham juga karena bahasa yang digunakan adalah bahasa India, hehe.</p>
<p>Sekitar pukul 14.00 sholat jumat usai, sekarang giliran istri yang sholat. Setelah itu kami putuskan untuk mencari makan siang. Selidik punya selidik ternyata persis di depan mesjid itu adalah Mustafa Plaza. Di belakang Mustafa Plaza tersebut terdapat Mustafa Center yang terkenal di kalangan para pelancong. Namun, kami putuskan untuk tidak ke sana. Pilihan kami justru jatuh pada restoran India di pertigaan jalan. Lihat sana lihat sini, akhirnya kami memesan dua porsi Nasi Biriyani seharga Sgd 10 tanpa minum (kebetulan kami membawa air mineral).</p>
<p>Begitu makanannya datang, istri saya kaget dengan porsinya. Satu piring Biriyani bisa dimakan untuk 2 orang. Hmm&#8230; kalo tahu begini kami pesannya cukup satu saja. Mungkin jadi pengalaman buat yang akan memesan, hihi. Sambil makan kami berdiskusi untuk memutuskan tujuan berikutnya. Disepakati untuk ke Orchard Road mencari oleh-oleh. Kami kembali membuka map rute MRT.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/orchad-road-2.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1696" title="Orchad Road - 2" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/orchad-road-2.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Selesai makan, sekitar Pukul 15.45, dibawah gerimis, kami pun berjalan menuju Stasiun MRT Ferrar Park. Dari sini kami menaiki MRT dan turun di Stasiun Dhoby Ghout (stasiun interchange) lalu menyambung MRT yang menuju Stasiun Orchad. Tiba di Stasiun MRT Orchad kami turun dan begitu keluar masih disambut gerimis. Namun karena sudah sampai disana kami pun tetap melanjutkan langkah.</p>
<p>Orchad Road adalah salah satu lokasi yang menjadi tempat tujuan pelancong. Disepanjang jalan ini berjejer mall-mall baik besar maupun kecil yang jika kita beruntung seringkali menawarkan program diskon. Disini juga terdapat satu pusat pertokoan yang bernama Lucky Plaza yang terkenal dengan berbagai macam jenis barang dagangan. Di Lucky Plaza kami mencari salah satu toko yang menjual buah tangan khas Singapura. Pilihan kami akhirnya jatuh ke gantungan kunci, harganya 5 pc Sgd 10. Setelah berhitung kami putuskan untuk membeli 15 pc dengan total Sgd 30. Saya juga tak menyia-nyiakan kesempatan menyalurkan hobby jeprat jepret. Disini kami juga menjumpai pedagang es krim (King&#8217;s Es Krim) seharga Sgd 1.</p>
<p>Puas mengitari Orchard Road, kami kembali ke areal Stasiun MRT Orchad. Disana terdapat pusat perbelanjaan juga dengan nama Ion Orchad. Istri saya memutuskan untuk mampir dan membeli sepatu seharga Sgd 10 dan beberapa gelang seharga Sgd 10. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan di seputar Orchad.</p>
<p>Tujuan selanjutnya kami putuskan ke Esplanade. Untuk yang satu ini adalah atas permintaan saya. Areal di sekitar Esplanade sangat terkenal dengan view-nya yang menarik, termasuk diantaranya adalah Patung Marlion dan Marina Bay Sands. Saya meminta ke sana karena di sore hari dan malam view-nya sangat menarik untuk hunting foto.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/raffles-palace-4.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1716" title="Raffles Palace - 4" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/raffles-palace-4.jpg?w=460&#038;h=680" alt="" width="460" height="680" /></a></p>
<p>Untuk mencapai Esplanade dari Orchad kami naik MRT dan turun di Stasiun interchange Dhoby Ghout. Dari sini kami berganti MRT yang ke arah stasiun Raffles Place. Tiba di Stasiun Raffles Place sekitar Pukul 18.45. Keluar areal stasiun kita mulai dihadapkan beberapa objek yang menarik. Disini saya mulai menyiapkan Canon EOS 500 D. Sangat banyak objek yang menarik, diantaranya adalah Singapura River, Fullerton Hotel yang indah dan megah, jembatan kuno, museum, dan juga keberadaan beberapa bangunan gedung menjulang tinggi.</p>
<p>Dari lokasi tepian Singapura River dan Fullerton Hotel, kami berjalan menuju Esplanade Park. Dari areal Esplanade Park ini kita bisa menangkap beberapa objek yang tidak kalah bagusnya. Mulai dari gedung Esplanade itu sendiri yang terkenal dengan bentuk menyerupai mata lebah atau kulit durian, bangunan Marina Bay Sands yang berbentuk seperti kapal nabi nuh dengan ketinggian nan megah, Fullerton Hotel, dan sederatan gedung perkantoran menjulang tinggi di Raffles Place. Kesemuanya sangat menarik dan menakjubkan serta sangat indah untuk dinikmati manakala sore dan malam hari.</p>
<p>Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan langkah tersebut. Berbagai ilmu jepret menjepret yang saya pelajari dari Mas Youtube saya praktekan disini. Dan ternyata saya tidak sendirian. Di sekitar lokasi Esplanade Park, tepatnya di depan gedung Esplanade itu sendiri, berjejer beberapa orang menenteng kamera dan tripod. Ada juga yang menjadikan objek disekitar Esplanade Park tersebut untuk foto Pra-Wedding.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-3.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1702" title="Esplanade Theater - 3" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-3.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Satu yang membuat kami penasaran, dari hasil membidik objek di seberang Singapura River tersebut kami tidak menemukan Patung Marlion yang sangat terkenal dan menjadi lambang kebanggaan Singapura. Namun karena waktu sudah beranjak malam, sekitar Pukul 20.15, setelah menikmati Laksa Singapura dan Teh hangat dicampur susu di cafe Kopi-O dalam gedung Esplanade, kami pun memutuskan untuk balik ke tempat penginapan.</p>
<p>Kami kembali berjalan kaki ke Stasiun MRT Raffles Place dan menaiki MRT tujuan Dhoby Ghout. Selanjutnya dari Stasiun Dhoby Ghout kami berganti MRT arah Punggol dan berhenti di Stasiun Boon Keng kembali. Dari sini kami tinggal jangan kaki menyusuri Serangoon Road menuju The Hive Hostel. Tiba di Hotel sekitar Pukul 23.00. Cuapek, penat bercampur jadi satu. Tapi itu lah tujuan kita ke Singapura, untuk jalan-jalan. Akhirnya kami sudahi petualangan hari pertama tersebut dengan tidur pulas.</p>
<p><em><strong>Hari Kedua</strong></em></p>
<p>Sekitar Pukul 07.30 kami bangun, mandi dan turun untuk sarapan. Disinilah suasana uniknya menginap di penginapan backpacker. Untuk sarapan kita membuat sendiri, pihak hostel hanya menyediakan amunisi untuk sarapannya seperti roti, berbagai jenis selai, bahan untuk membuat teh,kpi, air panas, susu cair, dan lainnya. Nah kita pengunjung membakar roti sendiri, menyajikan makanan sendiri, dan selesai makan mencuci perabotan bekas makan kita tadi sendiri, asyikkan. Sambil sarapan, kami merancang rencana hari ini. Disepakati untuk ke Singapura Bitanic Garden, Bugis Street, Singapura Art Museum, Marlion Park (yang di hari pertama tertunda dikunjungi&#8230;), dan terakhir adalah Mustafa Center.</p>
<p>Sekitar Pukul 08.30 kami bergerak dari penginapan untuk menuju Singapura Botanic Garden. Kalau di hari pertama kami explor pengalaman menikmati kenyamanan MRT, maka di hari kedua ini kami ingin mencicipi bagaimana rasanya naik Bus. Namun untuk start kami tetap naik MRT dulu dari Stasiun Boon Keng menuju Stasiun Interchange Dhoby Ghout, terus berpindah MRT tujuan Stasiun Orchad.</p>
<p>Setelah turun di Stasiun Orchad kami keluar melalui Pintu E, kemudian baru menyambung menaiki Bus. Seperti ketika hendak menaiki MRT, sebelum menaiki Bus kami selalu membaca papan pengumuman rute bus. Dari sini kami kemudian tahu bahwa untuk mencapai Singapura Botanic Garden kami bisa naik Bus No. 77 atau No. 106 dan nanti turun di Naiper Road. Kami membayangkan bahwa jarak yang akan ditempuh adalah lumayan jauh. Namun ternyata bayangan kami salah. Dari halte bus Orchad Road menuju Halte Bus Napier Road hanya memakan waktu sekitar 5 &#8211; 7 menit.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/botanic-gardens-8.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1704" title="Botanic Gardens - 8" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/botanic-gardens-8.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Setelah sampai di Halte Bus Napier Road kami turun, waktu menunjukkan Pukul 09.30. Tepat diseberang jalan sudah terlihat pintu gerbang Singapura Botanic Garden (SBG). Suasananya mirip-mirip dengan Kebun Raya Bogor, namun SBG lebih tertata. Yang saya lakukan disini tentunya hunting foto, mulai dari masuk pintu gerbang hingga ke areal dalam. Karena begitu luasnya dan kami masih mempunyai tujuan ke lokasi lain, kami putuskan untuk menyudahi kunjungan di SGB dengan tak lupa sebelumnya mengambil foto berdua di depan Orchid Garden (di dalam areal SGB itu sendiri).</p>
<p>Sekitar Pukul 11.45 kami keluar dari SGB. Tujuan kami selanjutnya adalah Bugis Street. Namun sebelumnya kami sempatkan membeli King Es Krim seharga Sgd 1 di depan areal SGB. Lumayan untuk mengganjal perut. Kemudian kami menuju Halte Bus Napier Road yang ada tepat di depan kami. Kami membaca rute bus yang melewati Bugis Street. Ternyata untuk menuju lokasi Bugis Street kami harus naik Bus No. 7 dan nantinya turun di Halte Victoria Street (Bugis Junction). Sepanjang perjalanan kami tetap awas memperhatikan sekitar. Ternyata Bus yang kami naiki melewati beberapa lokasi tujuan pelancong, mulai dari Orchad Road, Singapura Art Museum dan tentunya Bugis Street itu sendiri.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/bugis-street-2.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1707" title="Bugis Street - 2" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/bugis-street-2.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Pukul 12.15 kami tiba di Halte Victoria Street. Tepat di depan kami adalah lokasi Bugis Street yang terkenal dengan lokasi perbelanjaan terbesar di Singapura (itu kata tulisan di atas kanopi-nya, hehe). Karena lapar, sebelum masuk kami putuskan untuk mampir di restoran Burger King tepat di sisi kiri Bugis Street. Kami memesan dua paket burger seharga Sgd 10.20.</p>
<p>Selesai makan kami mulai memasuki lokasi perbelanjaan. Menurut saya sih gambaran lokasinya persis Mangga dua. Setelah menjelajah ternyata harganya kami bandingkan dengan kondisi di Indonesia tidak murah-murah amat. Untuk baju (rata-rata yang dijual disana baju perempuan) paling murah adalah Sgd 10 (berarti sekitar Rp 70 ribu). Ada juga yang menjual t-shirt yang berlogo khas Singapura dengan harga bervariasi, mulai dari 3 pc Sgd 10 sampai dengan 1 pc Sgd 10. Karena kualitas bahan-nya yang menurut kami tidak terlalu bagus, maka kami putuskan untuk tidak membeli. Sekitar Pukul 13.00 kami pun beranjak dari lokasi Bugis Street dengan hanya membeli beberapa jam tangan untuk saya sendiri, si kecil di rumah dan ponakan, dengan total belanja Sgd 14.</p>
<p>Dari Bugis Street tujuan kami selanjutnya adalah Singapura Art Museum. Mengingat lokasinya berbalik arah dan kami belum tahu rute busnya, maka dari sini kami putuskan untuk naik MRT. Dari lokasi Halte Victoria St (di depan Bugis Street) kami berjalan menuju Stasiun MRT Bugis lalu menaiki MRT dan berhenti di Stasiun Bras Basah. Keluar dari areal Stasiun Bras Basah kita langsung dapat menemukan lokasi Singapura Art Museum.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/singapore-art-museum-2.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1709" title="Singapore Art Museum - 2" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/singapore-art-museum-2.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Kami menuju papan pengumuman, ternyata free day entry nya adalah hari Jumat. Selain hari itu kita harus membeli tanda masuk seharga Sgd 10 per orang. Karena pertimbangan waktu yang kami pikir hanya sebentar untuk menjelajah bagian bangunan museum yang luas, maka kami putuskan untuk tidak masuk. Akhirnya saya hanya hunting foto di bagian luar museum.</p>
<p>Pukul 14.45 kami beranjak dari lokasi Singapura Art Museum. Istri saya mendapati jam tangan yang baru kami beli ada yang mati. Karena lokasi Bugis Street searah, maka kami putuskan untuk kembali ke sana dengan menumpang Bus No. 7 dari Halte di depan Singapura Art Museum. Untungnya penjual jam yang kami temui masih mengenali kami dan menerima keluhan yang kami sampaikan. Jam kami pun diganti baterai dan tokcer kembali.</p>
<p>Dari lokasi Bugis Street kami menyeberang jalan memasuki lokasi Bugis Junction. Bugis Junction ini adalah layaknya mall biasa. Disini istri berniat mencari sepatu dan tas incaran. Namun ternyata tidak ada yang cucok. Kami berkeliling di lokasi Bugis Junction sekitar satu jam dan kemudian memutuskan untuk menuju lokasi Marlion Park. Di luar mall kami disambut oleh hujan gerimis. Iseng kami berteduh di Halte Bus dan membaca petunjuk rute bus. Ternyata ada yang langsung menuju lokasi Marlion Park, yaitu Bus No. 130 dan nanti kita turun di depan Fullerton Hotel.</p>
<p>Sampai di depan lokasi Fullerton Hotel sekitar Pukul 16.00. Kali ini disertai kejadian kebablasan, seharusnya kami turun di Halte Bus Fullerton Hotel, ternyata kami kebablasan di halte bus selanjutnya. Karena satu arah, terpaksa berjalan kaki menyeberang lokasi untuk mencegat Bus yang mengarah Halte Fullerton Hotel. Sampai di depan Fullerton Hotel hujan turun, kali ini lumayan deras. Alhasil kami terjebak di halte tersebut hingga Pukul 17.15-an.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/marlion-park-1.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1712" title="Marlion Park - 1" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/marlion-park-1.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Begitu hujan reda, kami pun menuju lokasi Marlion Park sesuai dengan petunjuk yang ada. Akhirnya, setelah di hari pertama tidak berhasil menemukan, sampai juga kami di pelataran Marlion Park. Tetapiiiiii&#8230;.. kami dan pengunjung yang ada disana sedikit dibuat kecewa, karena ternyata Patung Marlion yang menjadi incaran sedang dibersihkan (atau tepatnya dipoles). Pengelolanya pun memasang spanduk yang berbunyi &#8221; Marlion take is a shower&#8221;. Hahaha&#8230; sontak penonton kecewa.</p>
<p>Tapi bagi saya tetap tidak ada kata kecewa. Saya bilang kepada istri, justru kita beruntung. Karena jarang-jarang pelancong menemukan moment dimana sang Patung sedang dibersihkan seperti itu. Istri saya berpikir, bener juga ya&#8230;. justru ini menjadi peristiwa yang langkah&#8230;.:-)</p>
<p>Maksud hari mau mengabadikan si Marlion, akhirnya disamping membidik si Marlion yang lagi mandi lensa kamera saya bidikkan kembali ke arah Singapura River, kebetulan hari mulai menjelang petang sehingga view mulai menarik. Saya sengaja meminta istri untuk tetap berada di pelataran Marlion Park sampai hari gelap. Tujuan saya tak lain dan tak bukan ingin menangkap view Gedung Esplanade, Marina Bay Sands, dan Singapura Flyer dari sisi Marlion Park, yang ternyata tak kalah menariknya jika diambil dari pelataran Esplanade Park.</p>
<p>Tapi sayang, battere kamera saya uda mau habis, sementara view yang saya harapkan belum begitu maksimal. View yang saya maksud maksimal adalah ketika hari sudah gelap sehingga pantulan cahaya di tepi Singapura River dengan gemerlap lampu yang indah dari gedung-gedung disekitarnya akan sangat jelas terlihat. Sialnya lagi saya tidak mempunyai battere cadangan. Agar supaya tidak kehilangan moment, akhirnya saya mempercepat proses bidikan. Hasilnya&#8230; ya lumayanlah.</p>
<p>Sekitar Pukul 18.30 kami undur diri dari pelataran Marlion Park. Karena lapar, kami putuskan untuk ke cafe Kopi-O di gedung Espalanade. Seperti biasa, saya memesan Laksa dan teh susu khas Singapura, sedangkan istri mencoba roti isi kaya (srikaya), total Sgd 10.  Istri saya masih penasaran mencari sepatu dan tas incerannya. Oleh karena itu kira-kira Pukul 20.00 kami sudahi makan malam di Kopi-O.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/laksa.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1730" title="Laksa" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/laksa.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Tujuan kami selanjutnya adalah mendekat ke arah Mustafa Center. Dari Gedung Esplanade tersebut kami iseng keluar dri bagian belakang, dan ternyata persis dihadapan kami adalah Halte Bus. Kami kemudian membaca papan pengumuman rute bus, dan beruntung ada bus yang melewati Serangoon Road (khususnya lokasi Mustafa Center), yaitu Bus No. 857. Akhirnya kamipun memutuskan naik bus.</p>
<p>Lebih kurang 30 menit perjalanan, kami tiba di Serangoon Road. Karena sudah familiar dengan daerah tersebut, kami putuskan berhenti di Halte depan City Square Mall.  Sebelum ke Mustafa Center, istri saya mengajak saya mampir dulu ke Mall tersebut, barangkali ada sepatu dan tas incerannya. Dan ternyata memang ada, lagi diskon pula! tambah senang dia&#8230; hahaha. Satu tas dan sepasang sepatu yang didapat istri di City Square Mall seharga Sgd 52.</p>
<p>Dari City Square Mall, kami berjalan kaki menuju Mustafa Center (lebih kurang 3-4 menit). Disini tujuan kami adalah membeli parfum,karena harga parfum di Mustafa Center terkenal lebih miring. Empat buah parfum yang kami dapat total harga Sgd 29.5. Sekitar pukul 23.00 kami sudahi aktivitas belanja di Mustafa Center dan kembali jalan kaki meuju The Hive. Jarak tempuh dari Mustafa Center ke tempat penginapan kami ditempuh lebih kurang 20 menit. Penat, capek sekali lagi bercampur jadi satu. Tapi senang karena hampir seluruh tempat tujuan yang kami rencanakan dapat kami kunjungi.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-6.jpg" target="_blank"><img title="Esplanade Theater - 6" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-6.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<p>Keesokan harinya adalah jadwal check out dan sekaligus kembali ke Jakarta. Pesawat kami Pukul 10.00, padahal itu masih Hari Minggu. Memang agak sayang juga, kenapa waktu memesan tiket tidak mengambil pesawat yang agak sore. Tapi sudahlah, untuk kunjungan kali pertama ini sudah cukup lumayan. Minimal kami sudah tahu sedikit seluk beluk Singapura, tempat penginapan, tempat tujuan dan yang utama adalah rute-rute MRT serta Bus untuk mencapai beberapa tempat tujuan tersebut. Jika ada rejeki kami ingin mengulang kembali melancong ke Singapura, tentunya dengan membawa serta si kecil. Semoga.</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-cerita-foto/'>Edisi Cerita Foto</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/bugis-street/'>Bugis Street</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/changi-airport/'>Changi Airport</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/esplanade/'>Esplanade</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/marina-bay-sands/'>Marina Bay Sands</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/marlion-park/'>Marlion Park</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/mustafa-center/'>Mustafa Center</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/orchad-road/'>Orchad Road</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore/'>Singapore</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore-art-museum/'>Singapore Art Museum</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore-botanic-garden/'>Singapore Botanic Garden</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/singapore-flyer/'>Singapore Flyer</a>, <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/the-hive-hostel-singapore/'>The Hive Hostel Singapore</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1645&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/02/01/dua-hari-berkunjung-ke-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Esplanade Theater - 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/changi-airport-7.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">Changi Airport - 7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/mrt-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">MRT - 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/serangoon-road.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Serangoon Road</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/orchad-road-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Orchad Road - 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/raffles-palace-4.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">Raffles Palace - 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Esplanade Theater - 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/botanic-gardens-8.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Botanic Gardens - 8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/bugis-street-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bugis Street - 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/singapore-art-museum-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Singapore Art Museum - 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/marlion-park-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Marlion Park - 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/laksa.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Laksa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2011/02/esplanade-theater-6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Esplanade Theater - 6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2010 in review</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/01/01/2010-in-review/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/01/01/2010-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 09:54:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1587</guid>
		<description><![CDATA[The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here&#8217;s a high level summary of its overall blog health: The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow. Crunchy numbers The average container ship can carry about 4,500 containers. This blog was viewed about 22,000 times in 2010. If each view were a shipping [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1587&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here&#8217;s a high level summary of its overall blog health:</p>
<p><img style="border:1px solid #ddd;background:#f5f5f5;padding:20px;" src="http://s0.wp.com/i/annual-recap/meter-healthy5.gif" alt="Healthy blog!" width="250" height="183" /></p>
<p>The <em>Blog-Health-o-Meter™</em> reads Wow.<span id="more-1587"></span></p>
<h2>Crunchy numbers</h2>
<p><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/07/04-killing-field.jpg"><img style="max-height:230px;float:right;border:1px solid #ddd;background:#fff;margin:0 0 1em 1em;padding:6px;" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/07/04-killing-field.jpg?w=288" alt="Featured image" /></a></p>
<p>The average container ship can carry about 4,500 containers.  This blog was viewed about <strong>22,000</strong> times in 2010.  If each view were a shipping container, your blog would have filled about 5 fully loaded ships.</p>
<p>In 2010, there were <strong>23</strong> new posts, growing the total archive of this blog to 68 posts. There were <strong>188</strong> pictures uploaded, taking up a total of 33mb. That&#8217;s about 4 pictures per week.</p>
<p>The busiest day of the year was December 21st with <strong>200</strong> views. The most popular post that day was <a style="color:#08c;" href="http://zasmiarel.wordpress.com/2008/10/17/penyakit-tampak-campak-pada-bayi-dan-anak/">Penyakit Tampak (Campak) pada Bayi dan Anak</a>.</p>
<h2>Where did they come from?</h2>
<p>The top referring sites in 2010 were <strong>search.conduit.com</strong>, <strong>google.co.id</strong>, <strong>en.wordpress.com</strong>, <strong>facebook.com</strong>, and <strong>mail.yahoo.com</strong>.</p>
<p>Some visitors came searching, mostly for <strong>campak pada bayi</strong>, <strong>campak</strong>, <strong>kekuatan sedekah</strong>, <strong>penyakit tampak</strong>, and <strong>campak pada anak</strong>.</p>
<h2>Attractions in 2010</h2>
<p>These are the posts and pages that got the most views in 2010.</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">1</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://zasmiarel.wordpress.com/2008/10/17/penyakit-tampak-campak-pada-bayi-dan-anak/">Penyakit Tampak (Campak) pada Bayi dan Anak</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">October 2008</span><br />
61 comments and 2 Likes on WordPress.com</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">2</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://zasmiarel.wordpress.com/2009/04/24/kekuatan-sedekah/">Kekuatan Sedekah</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">April 2009</span><br />
8 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">3</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://zasmiarel.wordpress.com/2010/07/23/choeung-ek-killing-fields-ladang-pembantaian-manusia-terbesar-di-cambodia/">Choeung Ek Killing Fields: Ladang Pembantaian Manusia Terbesar di Cambodia</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">July 2010</span><br />
4 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">4</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://zasmiarel.wordpress.com/2010/07/01/genocide-museum-tuol-sleng-saksi-bisu-kekejaman-rezim-khmer-merah-di-phnom-penh-cambodia/">Genocide Museum Tuol Sleng: Saksi Bisu Kekejaman Rezim Khmer Merah di Phnom Penh, Cambodia</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">July 2010</span><br />
12 comments and 1 Like on WordPress.com,</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">5</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://zasmiarel.wordpress.com/2008/10/17/mohammad-nadjikh-sosok-entrepreneur-muda-sukses/">MOHAMMAD NADJIKH, Sosok Entrepreneur Muda Sukses</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">October 2008</span><br />
1 comment</p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-umum/'>Edisi Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1587&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2011/01/01/2010-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/i/annual-recap/meter-healthy5.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Healthy blog!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/07/04-killing-field.jpg?w=288" medium="image">
			<media:title type="html">Featured image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semangat Berkurban</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2010/11/24/semangat-berkurban/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2010/11/24/semangat-berkurban/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 07:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Cerita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Adha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1549</guid>
		<description><![CDATA[Filed under: Edisi Cerita Foto Tagged: Idul Adha<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1549&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-27.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1551" title="Idul Adha 1431-27" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-27.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><span id="more-1549"></span><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-25.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1552" title="Idul Adha 1431-25" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-25.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-26.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1553" title="Idul Adha 1431-26" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-26.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-28.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1554" title="Idul Adha 1431-28" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-28.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-29.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1556" title="Idul Adha 1431-29" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-29.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-30.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1557" title="Idul Adha 1431-30" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-30.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-31.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1558" title="Idul Adha 1431-31" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-31.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-32.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1559" title="Idul Adha 1431-32" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-32.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-33.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1560" title="Idul Adha 1431-33" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-33.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-35.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1562" title="Idul Adha 1431-35" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-35.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-36.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1563" title="Idul Adha 1431-36" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-36.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-38.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1564" title="Idul Adha 1431-38" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-38.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-39.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1565" title="Idul Adha 1431-39" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-39.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-40.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1566" title="Idul Adha 1431-40" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-40.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-41.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1568" title="Idul Adha 1431-41" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-41.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-42.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1569" title="Idul Adha 1431-42" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-42.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-43.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1570" title="Idul Adha 1431-43" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-43.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-44.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1571" title="Idul Adha 1431-44" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-44.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-47.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1572" title="Idul Adha 1431-47" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-47.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-59.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1573" title="Idul Adha 1431-59" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-59.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-60.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1574" title="Idul Adha 1431-60" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-60.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-62.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1575" title="Idul Adha 1431-62" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-62.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-63.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1576" title="Idul Adha 1431-63" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-63.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-64.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1577" title="Idul Adha 1431-64" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-64.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-65.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1578" title="Idul Adha 1431-65" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-65.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-66.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1579" title="Idul Adha 1431-66" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-66.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-67.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1580" title="Idul Adha 1431-67" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-67.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-68.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1581" title="Idul Adha 1431-68" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-68.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-58.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1582" title="Idul Adha 1431-69" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-69.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-61.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1585" title="Idul Adha 1431-61" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-61.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><img class="aligncenter size-medium wp-image-1583" title="Idul Adha 1431-58" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-58.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-cerita-foto/'>Edisi Cerita Foto</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/idul-adha/'>Idul Adha</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1549/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1549&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2010/11/24/semangat-berkurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-27.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-27</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-25.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-25</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-26.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-26</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-28.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-28</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-29.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-29</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-30.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-30</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-31.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-31</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-32.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-32</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-33.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-33</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-35.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-35</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-36.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-36</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-38.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-38</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-39.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-39</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-40.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-40</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-41.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-41</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-42.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-42</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-43.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-43</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-44.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-44</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-47.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-47</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-59.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-59</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-60.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-60</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-62.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-62</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-63.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-63</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-64.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-64</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-65.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-65</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-66.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-66</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-67.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-67</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-68.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-68</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-69.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-69</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-61.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-61</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-58.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-58</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemeriahan Idul Adha 1431 H</title>
		<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2010/11/22/kemeriahan-idul-adha-1431-h/</link>
		<comments>http://zasmiarel.wordpress.com/2010/11/22/kemeriahan-idul-adha-1431-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 06:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi Cerita Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Adha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zasmiarel.wordpress.com/?p=1519</guid>
		<description><![CDATA[Filed under: Edisi Cerita Foto Tagged: Idul Adha<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1519&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-4.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1520" title="Idul Adha 1431-3" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-3.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /><span id="more-1519"></span><img class="aligncenter size-medium wp-image-1522" title="Idul Adha 1431-4" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-4.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-5.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1523" title="Idul Adha 1431-5" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-5.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-6.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1525" title="Idul Adha 1431-6" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-6.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-7.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1526" title="Idul Adha 1431-7" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-7.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-8.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1528" title="Idul Adha 1431-8" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-8.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-9.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1529" title="Idul Adha 1431-9" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-9.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-10.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1530" title="Idul Adha 1431-10" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-10.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-11.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1532" title="Idul Adha 1431-11" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-11.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-12.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1533" title="Idul Adha 1431-12" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-12.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-13.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1534" title="Idul Adha 1431-13" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-13.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-14.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1535" title="Idul Adha 1431-14" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-14.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-15.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1537" title="Idul Adha 1431-15" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-15.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-16.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1538" title="Idul Adha 1431-16" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-16.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-17.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1539" title="Idul Adha 1431-17" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-17.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-18.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1540" title="Idul Adha 1431-18" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-18.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-19.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1541" title="Idul Adha 1431-19" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-19.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-20.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1542" title="Idul Adha 1431-20" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-20.jpg?w=460&#038;h=600" alt="" width="460" height="600" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-22.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1543" title="Idul Adha 1431-22" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-22.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-23.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1544" title="Idul Adha 1431-23" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-23.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a><a href="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-24.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1545" title="Idul Adha 1431-24" src="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-24.jpg?w=460&#038;h=330" alt="" width="460" height="330" /></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/category/edisi-cerita-foto/'>Edisi Cerita Foto</a> Tagged: <a href='http://zasmiarel.wordpress.com/tag/idul-adha/'>Idul Adha</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zasmiarel.wordpress.com/1519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zasmiarel.wordpress.com/1519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zasmiarel.wordpress.com&amp;blog=4815929&amp;post=1519&amp;subd=zasmiarel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zasmiarel.wordpress.com/2010/11/22/kemeriahan-idul-adha-1431-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0859b50a1899134190f4c6d793c77af6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-3.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-6.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-7.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-8.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-9.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-10.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-11.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-12.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-13.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-14.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-15.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-16.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-17.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-18.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-18</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-19.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-20.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-23.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-23</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://zasmiarel.files.wordpress.com/2010/11/idul-adha-1431-24.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Idul Adha 1431-24</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
